Senin, 08 Desember 2014

terbodoh di dunia

Pernahkah kamu merasa jadi orang terbodoh di dunia?
Yang tidak mengerti apa-apa, bahkan hasil karya yang kau buat pun tak dapat kau baca.
Kalau iya, kita sama.

Selasa, 02 Desember 2014

Di Sini

Dalam diam, aku ingin menyapamu.
Dalam jarak, aku ingin menyentuhmu.
Dalam tenang, aku ingin bersamamu.
Merasakan tiap pedih yang kau rasa.
Atau tiap gelak tawa yang kau punya.

Sekalipun tidak,
Aku ingin kau tahu bahwa aku di sini.
Menunggu kau siap menatap hari kembali.
Menyediakan lengan untuk berbagi.

Ya, aku masih di sini.
Dan akan terus di sini.

Jumat, 07 November 2014

"sama-beda"

Hei kamu,
Malam ini kita kembali membangun cerita.

Awalnya aku yang bercerita bagaimana pusingnya aku hari ini, memikirkan banyak hal dan terus mencoba untuk kuat di depan dan belakang (katamu). Dilanjutkan denganmu, kau berbagi PR yang selama ini menyita pikiranmu. PR yang meski telah berbagai cara kau coba memecahkannya, tetapi masih saja belum terlihat buahnya.

Terima kasih ya untuk mau membaginya denganku, sebuah kehormatan bagiku.
Lalu kita mulai berpendapat satu sama lain. Mengemukakan asumsi masing-masing. Hingga semakin terlihat jelas, ada perbedaan dalam cara kita memandang suatu fenomena. Ibarat gajah, kau mendeskripsikannya dari wajah dan telinganya yang lebar, sedangkan aku mendeskripsikannya dari panjang ekornya dan berat badannya. Ya, sudut pandang kita berbeda.

Aku teringat pada salah satu perkataan pak Alva, bahwa dalam mencari pasangan hidup adalah keputusan kita masing-masing untuk memilih yang "sama" atau "berbeda" dengan kita. Ketika memilih yang "sama", secara otomatis akan banyak terlihat persamaan yang muncul. Semakin cepat akrab, sejalan dalam pemikiran. Meski sesungguhnya ada bahaya di balik ke"sejalan"an itu. Kita akan selalu mendeskripsikan sesuatu dari sudut pandang yang sama. Kelihatannya indah memang, tak perlu ada perdebatan. Namun sesungguhnya, ada sisi lain dari suatu fenomena yang luput kita perhatikan. Lantaran kau dan aku sama-sama melihat dari satu sisi saja.

Sedangkan ketika memilih yang "berbeda", hadiah utama yang akan diperoleh ya adalah perbedaan itu sendiri. Perbedaan ini dapat mencakup cara berpikir, menganalisis, berbeda sudut pandang hingga sangat memicu terjadinya percekcokan. Wow, tampaknya berbahaya sekali ya. Namun coba lihat lebih dekat lagi, melalui hal ini kita justru smenjadi semakin kaya! Segala perbedaan itu membuat ide-ide kita pun berbeda, cara kita mengatasi masalah berbeda, bahkan cara kita mendeskripsikan seekor gajah pun akan berbeda. Tidakkah kau lihat ini sebagai sebuah tantangan yang sangat mengasyikkan? Kita menjadi lebih waspada, karena melihat lebih dari satu sisi yang ada. Ya, saling melengkapi.

Mana yang kau pilih, sayang?
Sejujurnya, aku memilih yang kedua. Perbedaan itu memperkaya kita, melengkapi kita. Seperti miss Merry dan pak Alva :) haha

Semoga kelak kita semakin mengerti ya.
Hingga pada akhirnya menjadi semakin bijaksana.

Aku mengasihimu.

-neverending story-

Ini adalah dongeng sebelum tidur.

Sebut saja mereka adalah Galih dan Ratna.
Di suatu senja, Tuhan mempertemukan mereka berdua. Dalam harmoni nada, seketika mereka jatuh cinta. Bahkan bukan hanya terjatuh, tapi tergila-gila dimabuk cinta. Hingga suatu hari mereka harus menerima kenyataan, mereka tak bisa bersama.

Dengan penuh keterpaksaan semuanya berubah. Galih pergi meningglkan Ratna yang masih berharap keajaiban terjadi. Namun ternyata tidak. Semua hanya ilusi dan ekspektasi sia-sia. Galih pergi tanpa jejak, membiarkan Ratna semakin menggila dalam harapnya.

Bertahun-tahun hidup dengan jalannya masing-masing, takdir kembali mempertemukan mereka dalam ruang dan waktu. Sontak hal itu membuat Ratna kembali bergairah. Harapannya untuk bersama orang yang sangat ia cintai kembali ia hidupkan setelah ia kubur sedalam-dalamnya. Hasratnya kembali merona, membentuk asumsi baru akan apa yang mereka sebut takdir.

Sedangkan Galih? Entah. Sepertinya ia kembali hanya untuk bertanggungjawab atas keputusannya dahulu meninggalkan Ratna dalam sesak. Bahkan tanpa ada suatu niat untuk kembali merajut cinta. Mungkin itu yang membuat kehadirannya seolah tak pernah cukup bagi Ratna. Ia hadir tapi tak hadir. Ia ada tapi tak ada. Tak bisa digapai, tak bisa diraih.

Lantas, sampai kapan semuanya akan seperti ini?
Akankah Ratna terus-menerus memilih hidup dalam khayalan fana demi merasakan kebahagiaan yang tak pasti?
Ataukah memang pintu hati Galih telah tertutup rapat akan kisah mereka berdua dan tak sedikitpun timbul keinginan untuk membukanya kembali?

Sekali lagi, ini hanyalah sebuah dongeng sebelum tidur.
Dongeng tanpa akhir.
Kau lah yang memilih untuk segera tidur atau terus melanjutkannya dengan caramu sendiri.

Senin, 20 Oktober 2014

Too many things I can give thank for ...

Hi friends,

Sudah lama rasanya tidak menuangkan isi hati di blog ini. Semoga belum pada bosan ya baca update-an yang sebenernya nggak update karena cuma di-update kadang-kadang doang #halah haha

Sedikit bercerita tentang hidup.
Now I'm on my last semester (at least I pray it really will be my last semester. AMEN). Yap, di semester ketujuh ini gue dengan sotoynya memutuskan untuk mengambil skripsweet. Sejauh ini masih dalam proses pengumpulan literatur dan mulai bab 1. Kadang ngerasa mustahil dan nggak ngerti gimana cara ngerjain skripsweet yang berlembar-lembar itu. Have no idea about it ... But I do believe, skripsweetnya pasti kelar pada waktunya kok. Bener-bener pengen ini jadi semester terakhir. Pengen cepet kerja, biar bisa gantian sama mama. Mama udah cukup lelah bekerja, sekarang saatnya anak perempuan tertuanya yang menggantikan perannya sebagai tulang punggung keluarga :') Makanya kepengen cepet lulus, haha.

Next, sampai sekarang masih nggak tau gimana cara ngungkapin syukur bisa kenal langsung sama seorang Merry Riana. Many lessons I got from her and from pak Alva, her husband. They're my super role model, orang-orang luar biasa yang ngebuat gue sadar akan banyak hal dalam hidup. Glad to know them, bahkan bisa terus berkomunikasi dan membangun relasi dengan mereka. Bersyukuuuuurrr banget rasanya ...



Puji Tuhan, satu hal yang bikin nggak bisa berhenti bersyukur adalah kepercayaan yang Tuhan kasih ke gue buat jadi seorang Pemimpin Kelompok Kecil (PKK) di FIB. Dikasih tanggung jawab empat orang AKK yang unyu-unyu, ada Elisabeth seorang yang punya semangat yang luar biasa untuk melayani Tuhan, Jacqueline sang pemain biola yang kece abis, Valerie yang selalu curhat di mana pun dan kapan pun, plus Chintya yang manis dan selalu tampil modis. Ya, bersyukur banget bisa punya mereka sebagai AKK kesayangan :') Tepat hari ini kita baru mulai KK bahan pertama, mudah-mudahan bisa terus KK dan semakin bertumbuh dalam Tuhan ya.



Oh iya, belakangan gue juga lagi bersyukur banget punya partner-in-crime kesayangan yaitu Safirah dan Eri. They're more than just best friends for me. They're my great partner baik dalam suka maupun duka. Sering banget ngakak sampai sakit perut bareng mereka, begadangan ngerjain tugas bareng, sampai curhat nangis sesenggukan sama mereka. Mereka orang yang nggak segan negur gue, atau bahkan marahin gue kalo gue salah. Mereka orang yang selalu support dan berjuang bareng gue. Mereka orang yang sangat mengerti keadaan gue dan nggak pernah protes buat hal itu. Beberapa hari yang lalu gue sempet ngebayangin, gimana ya nanti kalo kita sama-sama udah lulus. Eri balik ke Kebumen, Safir balik ke Tangerang. Kita nggak akan sama-sama kayak sekarang, yang bisa hampir tiap hari ketemu. Dan dengan alaynya pas gue ngebayangin hal itu kemaren, gue nangis dooooonnggg. Di dalem busway lagi -_- Huah. Tapi cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi kan? Hanya berharap sampai kapan pun mereka akan tetap jadi dua orang paling berharga dalam hidup gue.



Yup, too many things in my life I can give thank for ...
Tuhan Yesus baik banget sampai hari ini, dan akan terus baik sampai selama-lamanya. Bersyukur mama dan Karen masih sehat. Bahkan sekarang si Karen makin gendut, haha. Seneng juga ngeliat sekarang dia udah SMP, biar Tuhan yang tetap pegang masa remajanya ya. Amin.






Tetap bersyukur, tetap bersukacita.
Ada Tuhan yang menyertai senantiasa dalam hari-hari kita.

Yang diberkati dan ingin menjadi berkat,
Khezia

Selasa, 26 Agustus 2014

Kamis, 19 Juni 2014

Unconditionally - Katy Perry

Oh no, did I get too close?
Oh, did I almost see what's really on the inside?
All your insecurities
All the dirty laundry
Never made me blink one time

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now
Let go and just be free
I will love you unconditionally

Come just as you are to me
Don't need apologies
Know that you are worthy
I'll take your bad days with your good
Walk through the storm I would
I do it all because I love you, I love you

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now
Let go and just be free
I will love you unconditionally

So open up your heart and just let it begin
Open up your heart and just let it begin
Open up your heart and just let it begin
Open up your heart

Acceptance is the key to be
To be truly free
Will you do the same for me?

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
And there is no fear now
Let go and just be free
'Cause I will love you unconditionally


I will love you unconditionally

1000% bukan 100%

Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Perlu kesiapan dan kematangan mental maupun tekad. Namun bagaimana jika kamu ditunjuk menjadi seorang pemimpin, ketika kamu merasa belum pantas?

Itulah yang aku rasakan selama beberapa hari ini. Ketika dipilih oleh miss Merry dan pak Alva untuk menjadi seorang House Chief Musketeers dalam Life Camp minggu depan. Bukan hanya sekadar coach yang memimpin 10 anak, tetapi seorang House Chief akan memimpin 30 anak sekaligus dalam satu house. Apa nanti aku dapat membuat anak-anak tersebut menikmati camp? Apa nanti aku dapat memotivasi mereka hingga mereka mengalami breakthrough? Mudah? Kurasa tidak.

Ya, itu yang aku takutkan. Aku merasa bukan apa-apa, tidak sebanding dengan ketiga orang House Chief lainnya. Dua orang House Chief merupakan anggota MRCA Batch 1, sedangkan satu lagi adalah staf MRI. Lalu aku? Aku masih harus banyak belajar dan belum dapat dikatakan hebat dalam memimpin. Masih banyak sekali kekurangan yang aku miliki, tetapi mengapa miss Merry dan pak Alva memilihku? Mereka pasti memiliki alasannya kan? Entah apapun yang menjadi alasan mereka, di sisi lain aku merasa sangat bangga dan bersyukur diberikan kepercayaan untuk memangku tanggung jawab yang lebih besar. Aku sempat berpikir, mungkin melalui hal ini mereka ingin aku belajar lebih banyak untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Ya, ini memang kesempatan emas menurutku. Kesempatan untuk belajar dan praktik secara langsung.

Meskipun begitu, salah satu yang jadi kelemahanku muncul lagi. Minder. Kuakui dalam beberapa hal aku seringkali merasa minder, apalagi jika aku diperhadapkan dengan orang-orang yang kemampuannya ada di atasku. Hingga malam ini aku bercerita kepadamu dan mama mengenai hal ini. Kalian berdua sungguh menenangkan hati dengan cara tersendiri.

Kamu mengajarkanku untuk membuang rasa minder itu jauh-jauh. Mengingatkanku akan hal yang terpenting yaitu terus melakukan bagianku yang terbaik. Satu lagi, kamu bilang aku harus membuat target 1000%, bukan 100%. Karena 100% itu adalah kemampuan kita manusia, sedangkan 1000% adalah mimpi kita. Yang aku pelajari darimu, untuk berhasil aku harus berani bermimpi dan membuat target jauh melebihi kemampuanku. Melengkapi hal itu, aku harus percaya pada diriku sendiri kalau aku pasti bisa. Pasti bisa menjadi seorang pemimpin yang baik dan meraih targetku sebagai seorang Coach sekaligus seorang House Chief.

Sedangkan mama mengajarkanku sisi yang lain. Mama berkata bahwa dalam setiap doanya, beliau selalu meminta pada Yang Kuasa untuk membuatku menjadi seorang kepala dan membawaku terus naik. Mungkin kesempatan inilah jawaban doa mama itu, ketika aku dipercayakan hal yang lebih besar. Dan mama mengingatkanku, jika memang Tuhan yang memberiku kesempatan ini, masakan Ia tak memperlengkapiku dan membiarkanku begitu saja? Tidak mungkin. Ia pasti akan membimbingku dan memperlengkapi aku dengan hikmat, kekuatan, sukacita, dan semangat yang baru asalkan aku terus mengandalkan Dia dalam segala hal. Bersama Yesus, aku pasti bisa.

Dua hal tersebut sungguh menenangkan hati. Membuatku yakin bahwa dalam setiap langkah yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidupku adalah rencana Tuhan, dan bahwa aku pasti dapat mencapai targetku jika aku terus melakukan yang terbaik. Ya, itulah yang kudapat. Sebisa mungkin akan kubuang rasa minder tersebut dan percaya pada diriku sendiri bawa aku pasti bisa, karena ada Yesus yang bersamaku.


"Pemimpin yang baik tidak berada di atas dan memberikan perintah. Pemimpin yang baik berada di sisi kita & memberikan contoh." --Merry Riana

Yes, aku akan melakukannya. Aku akan menjadi teladan dan menjadi pemimpin sekaligus rekan yang baik bagi House Musketeers nanti. SEMANGAT Khezia! Kalau Merry Riana saja bisa, maka Khezia juga PASTI BISA! Yeah!




nb:
Terima kasih kamu dan mama, both of you are my precious. Thanks God I have you both :')

Kamis, 05 Juni 2014

Belajar dari Kebodohan

Hei kawan, selamat pagi.

Cerita ini ditulis di perpustakaan pusat kampusku, tempatku biasa menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas, belajar, atau bahkan sekadar online. Pagi ini aku merasa gagal (lagi). Yah di minggu-minggu terakhir kuliah sebelum libur ini, aku gagal menghadiri satu kelas karena alasan yang sangat sepele. Bahkan aku malu untuk mengatakannya, KETIDURAN.

Kelas dimulai pukul 9 pagi. Aku sudah bangun sejak pukul 6 tadi pagi, segera bergegas memasak nasi, menyiapkan sarapan, dan lain-lain. Kebodohan itu dimulai setelah sarapan, apalagi setelah badan ini menempel dengan kasur. Kantuk datang menyerang, aku pun tertidur. Bangun pukul 8.30, segera mandi dan kulihat jam sudah menunjukkan pukul 8.50. Aku bersiap-siap secepat kilat dan jam menunjukkan pukul 8.55. Habislah aku. Pasti akan terlambat sampai di kelas. Sesungguhnya kelas dimulai pukul 8 pagi, tetapi dosenku mengundurnya menjadi jam 9 pagi dengan catatan beliau tidak ingin ada yang terlambat. Akhirnya setelah melalui sedikit pertimbangan dan karena tidak ingin menghancurkan mood sang dosen, aku memutuskan untuk tidak masuk kelas.

Di sinilah aku sekarang, di perpustakaan menulis cerita ini. Merasa gagal. Kenapa?

Bisa dibilang aku termasuk orang yang perfeksionis. Sebisa mungkin aku mengusahakan segala sesuatunya berjalan sempurna, termasuk kehadiranku di kelas. Sejak dulu aku jarang sekali tidak masuk sekolah/kuliah jika aku tidak benar-benar berhalangan untuk hadir. Sakit pun seringkali aku tetap memaksakan diri untuk masuk. Dan hari ini aku tidak masuk karena kebodohanku yang begitu payah, yang sebenarnya bisa tidak terjadi. Sederhana memang, tetapi sungguh aku merasa gagal. Perasaan yang sama ketika aku harus tidur larut malam lantaran mengejar deadline esok hari, padahal karena aku menunda-nunda pekerjaan dan akhirnya harus mengebutnya dalam semalam.

Aku benci seperti ini.
Aku benci diriku sendiri.
Masih terlalu payah mengatur waktu. Terlalu manja pada diri sendiri. Tidak disiplin. Mau jadi apa kalau seperti ini terus? Pasti akan membuat kinerjaku payah jika aku tak segera memperbaikinya. Ya, memperbaikinya. Berulang kali aku berjanji pada diri sendiri dan berusaha untuk belajar dari pengalaman, tidak mengulangi perbuatan-perbuatan bodoh seperti ini. Belajar untuk menghargai waktu tiap detiknya, belajar mengerjakan segala sesuatunya sekarang bukan nanti atau besok, belajar tidak berleha-leha dan tidak menunda pekerjaan. Semuanya masih dalam tahap belajar. Aku belajar menjadi keras pada diriku sendiri. Sebab jika bukan aku, siapa lagi?

Yah begitulah sedikit ceritaku pagi ini. Hingga saat ini aku akan terus belajar dari kebodohanku tersebut. Aku tak mau kelak di masa depan aku gagal akan hal besar hanya karena aku tidak bisa mengatasi kebodohanku yang sepele ini. Aku harus semangat, tegas, dan disiplin pada diriku. Tidak boleh manja dan bersantai-santai. Ayo Khezia semangat! Terus belajar dari setiap proses yang ada. Yak, SEMANGAT!

Kamis, 22 Mei 2014

Salam

Hei kamu,
Sudah terima salamku?
Yang kutitipkan pada mentari yang sinarnya mengintip jendelaku pagi ini
Yang kulayangkan pada burung gereja yang suara merdunya menemaniku siang ini
Yang kubisikkan pada dedaunan yang menghiburku dengan tarian indahnya petang ini
Yang kusampaikan pada angin yang berhembus melalui ventilasi kamarku malam ini

Semuanya sama
Membawa salamku padamu
Berselimut rindu

Need You Now

Picture perfect memories
Scattered all around the floor
Reaching for the phone 'cause
I can't fight it anymore

And I wonder if I ever cross your mind
For me it happens all the time

It's a quarter after one
I'm all alone
And I need you now
Said I wouldn't call
But I've lost all control
And I need you now

And I don't know how I can do without
I just need you now

Another shot of whiskey
Can't stop looking at the door
Wishing you'd come sweeping
In the way you did before

And I wonder if I ever cross your mind
For me it happens all the time

It's a quarter after one
I'm a little drunk
And I need you now
Said I wouldn't call
But I've lost all control
And I need you now

And I don't know how I can do without
I just need you now

Rabu, 12 Maret 2014

hanya malam ini

Entah kenapa sepanjang hari ini aku didera perasaan menyesal. Sekalipun sejujurnya aku sangat tak suka pada penyesalan, apalagi jika aku yang menyesal karena keputusan yang aku buat. Bukan, ini bukan sepenuhnya salahmu. Aku pun terlalu berlebihan berekspektasi yang belum pasti bagaimana kenyataannya.

Hingga sampai malam ini, aku masih didera. Sepucuk kesal yang aku sendiri tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya masih bersemayam, menunggu untuk dikuak. Sesak, rasa yang sama ketika ada sesuatu yang mengganjal dan harus diselesaikan. Tapi mungkin tak sekarang, terlalu banyak hal yang harus aku selesaikan dan waktu istirahatmu yang sangat kamu perlukan.

Yah tidurlah sayang, pergilah tidur. Entah bagaimana sesak ini akan hilang. Sungguh kurasa sangat kekurangan waktu saat ini, untuk mengerjakan semua tanggung jawab ini, ditambah waktu untuk mengenalmu. Haha, ya mungkin inilah yang menjadi penyesalanku. Terlalu cepat dan terburu-buru, ditambah ekspektasi bodoh dan perilaku labil yang sepertinya kulakukan saat sedang dalam keadaan tak sadar.

Mungkin malam ini aku akan tidur sendiri. Tanpa kamu yang menemaniku. Yang sesungguhnya pun karena aku tak mau. Saat ini, kuharap hanya saat ini.

Senin, 03 Februari 2014

Hidup ini bergerak

Hidup ini harus terus bergerak.
Ada aliran di dalamnya yang memaksa kita untuk tidak berdiam diri di tempat saja.
Walaupun masa lalu tak dapat dihapus, tapi itu tidak dapat dijadikan alasan untuk terus menoleh ke belakang dan terpuruk di dalamnya.
Tak ada waktu untuk menyesal.
Penyesalan hanya akan membuat kita takut dan tak rela melangkah ke depan.
Sepatutnya kita belajar dari kesalahan, lalu memantapkan diri untuk terus berjalan.
Takut itu wajar.
Namun jangan pernah biarkan rasa takutmu menghentikanmu menemukan indahnya karunia yang telah disiapkan Sang Pencipta untukmu di depan sana.
Percaya bahwa dalam setiap aliran hidup, pula ada proses yang Ia siapkan bagi kita.
Ingatlah juga, untuk tidak memberatkan langkah dengan dendam yang membara.
Berikan maaf bagi mereka, serta mohonkanlah maaf dari mereka.
Songsong hari depan dengan keyakinan, bahwa semuanya akan jadi indah pada waktunya.

Minggu, 02 Februari 2014

Halo

Halo
Hari ini kita bertemu lagi
Kalau aku boleh jujur
Hari ini aku benar-benar terpesona olehmu
Bukan, bukan karena fisikmu
Hanya melalui satu tindakan sederhana yang kau lakukan
Yang bahkan terlalu sederhana untuk dijelaskan
Yang jelas, saat kau melakukannya
Seketika aku menyadari satu kunci lagi
Satu kunci yang meyakinkanku untuk menjawab “ya” entah kapan
Haha, mungkin aku terlalu berlebihan
Tapi sungguh, aku meleleh rasanya
Seingatku, kamu yang pertama melakukannya
Semoga ini pertanda bahwa rancangan keputusanku benar
Dan semoga ini mempermudah langkah kita
Kamu, terima kasih ya!