Kalau ku boleh mendeskripsikan apa itu hidup
Kan kupilih kedua kata ini: BELAJAR dan MIMPI
Hidup ini BELAJAR
Membuka mata
Melihat dunia dan isinya
Bahwa masih banyak gunung yang belum didaki
Masih banyak sungai yang belum diselami
Masih banyak awan yang belum ditempuh
Dan untuk itu hidup ada
Hidup ini MIMPI
Yang hanya sekejap lalu lenyap
Namun jauh lebih mulia dari asap
Membakar asa untuk menengadah
Membakar asa untuk berlari
Membakar asa untuk menggapai bintang di langit
Dan untuk itu hidup ada
Kalau ku boleh mendeskripsikan apa itu hidup
Kan kupilih kedua kata ini: BELAJAR dan MIMPI
Kamis, 14 November 2013
Jumat, 27 September 2013
passion di tahun ketiga
Jadi begini ceritanya ...
Tadi sore saya mengobrol dengan salah seorang teman dekat saya, sebut saja Erimay :p haha. Gini gini, kita tadi ngobrolin tentang JIP, jurusan Ilmu Perpustakaan yang udah memasuki tahun ketiga kami jalani. Belakangan saya dan Eri memang sering membicarakan hal ini, sedikit berorientasi ke masa depan sekaligus masa lalu. Lega rasanya saya tidak sendiri, ternyata di tahun ketiga ini masih ada yang merasakan hal yang sama yang belakangan saya rasakan. Pertanyaan yang terus membayangi saya, nanti setelah lulus, mau apa?
Saya ingin sekali meneruskan studi S2, biar antimainstream dari ke-mainstream-an S1 yang sudah menjamur di mana-mana. Trus, mau ambil jurusan apa nanti kalo S2? Awalnya dengan mantap saya bisa berkata, mau ambil jip lagi, dengan alasan ingat kata-katanya guru musik waktu SMA yang bernama pak Arif. Beliau selalu mengingatkan saya untuk "setia" dan fokus pada ilmu yang saya tekuni. Kalau S1 ambil ekonomi, ya sampai S3-pun ambillah ekonomi. Begitu juga saya, kalau S1 jip, sampai S3 juga ambil jip. Namun percakapan dengan Erimay membuat saya sadar, is that what you really want, Khe?
Jawabannya, saya tidak tahu.
Pada akhirnya saya kalah. Saya harus mengakui ketidak-passion-an saya selama 2 tahun ini. Ya, jip jauh dari passion saya. Kecenderungan saya dan dunia saya saat SMA rasanya lebih menggiurkan daripada sekarang. Saya rindu bisa menghabiskan berjam-jam waktu saya untuk mengerjakan soal matematika, kimia, ataupun menghapal mati-matian untuk biologi. Ya saya rindu sekali masa-masa itu, saat saya merasa keren dan amat bangga ketika mengenakan jas lab. Itukah passion saya yang sebenarnya? Atau apakah yang sebenarnya disebut passion itu? Hanyakah sekadar sebuah kegiatan yang dilakukan seseorang tanpa ingat waktu?
Kalau iya, artinya saat ini saya sedang jauh dari passion saya. Ingat juga kata-kata bang Sam, salah satu pembicara dalam PJ FIB beberapa waktu lalu. Ketika ingin melakukan sesuatu, pikirkanlah apakah hal tersebut dapat membantu kita menuju goal kita atau tidak. Sekarang saya kembalikan lagi, apa goal saya yang sebenarnya? Menjadi pustakawan? Arsiparis? Ya itu goal saya, yang akan saya katakan jika ada orang yang bertanya pada saya, "ntar kerjanya apa?", tapi lagi-lagi saya harus mengatakannya, saya belum menemukan passion saya di sana. Selama ini saya belajar, ya. Selama ini berusaha memahami materi yang diberikan dosen, ya. Saya bisa, saya sudah melakukannya, tapi saya belum menikmatinya. Seakan-akan semua hanya demi nilai A dan keinginan untuk menyelesaikan studi S1 saya dengan baik, sehingga saya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik pula kelak, bisa membanggakan orangtua saya, bla bla bla ... Lalu apa?
Sering sekali mendengar kisah orang-orang yang sukses dan berhasil dalam sesuatu yang memang menjadi passionnya, dibantu dengan disiplin ilmu yang mendukungnya. Sedikit terbersit keinginan untuk mengulang waktu dan mengubah pilihan saya saat SNMPTN 2011 lalu. Kenapa dulu nggak ambil jurusan di fmipa, entah kimia atau biologi, jurusan yang passing grade-nya tidak terlalu tinggi, tapi tidak jauh dari dunia saya. Ya, begitu juga dengan Erimay yang terus berpikir, kenapa dulu nggak terus-terusan memperjuangkan FE-nya itu. Ah andai waktu bisa diputar, tapi semuanya terus berjalan kan, mau tak mau semua akan terus berlanjut dan tak ada kesempatan mengulang. Saya tak sedikitpun berniat mencoba SNMPTN lagi, saya sudah sangat bersyukur atas kesempatan kuliah di UI yang Tuhan karuniakan, ditambah dengan Bidikmisi yang saya dapat. Namun sesungguhnya saya tak tahu bagaimana saya harus berkarya nanti, atau bahkan saat ini dengan bidang ilmu yang saya tekuni. Seperti percakapan dengan kak Donny, salah seorang senior saya di jip, yang membuat saya sadar bahwa saat ini saya masih berada di tepian kolam jip, belum menceburkan diri, bahkan belum berkeinginan untuk masuk dan terlibat lebih lanjut. Jelek sekali, bukan?
Ya sudahlah, yang kini berjalan biarlah terus berjalan. Hanya saja, saya ingin belajar dari kesalahan yang sama untuk masa depan saya. Mau apa setelah lulus nanti? Jurusan apa yang akan diambil untuk S2? Bagaimana caranya? Kalau menuruti passion, saya sadar, saya sudah sangat jauh dengan passion saya yang ke-ipa-ipa-an itu. Lalu bagaimana? Hmm, inilah yang belakangan menjadi kegalauan saya. Bagaimana selanjutnya, saya tidak tahu. Saya akan terus melakukan usaha terbaik saya untuk menyelesaikan studi S1 saya ini dengan baik, dan jika Tuhan menghendaki, dalam 3,5 tahun. Sambil memikirkan karya apa yang dapat saya kerjakan saat ini, hingga nanti ketika saya lulus dan bekerja, serta jurusan apa yang akan saya ambil di S2 nanti. Benar kata Eri, rasanya ingin sekali berbincang dengan orang-orang muda yang sukses tentang mimpi mereka, ataupun berbincang dengan dosen-dosen muda jip yang tetap setia dan memilih jip sebagai ladang tempat mereka berkarya. Saya tidak takut pekerjaan apa yang akan saya dapatkan di bidang jip, karena memang saat ini sangat dibutuhkan lulusan-lulusan jip. Hanya saja, akan kah saya menikmatinya sepenuh hati saya?
Perlu diingat, dalam hal ini saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan jurusan saya, hanya menekankan masalah passion dan berusaha menemukannya. Ya, berharap suatu hari nanti saya akan menemukannya, dan berkarya di dalamnya. Amin.
Tadi sore saya mengobrol dengan salah seorang teman dekat saya, sebut saja Erimay :p haha. Gini gini, kita tadi ngobrolin tentang JIP, jurusan Ilmu Perpustakaan yang udah memasuki tahun ketiga kami jalani. Belakangan saya dan Eri memang sering membicarakan hal ini, sedikit berorientasi ke masa depan sekaligus masa lalu. Lega rasanya saya tidak sendiri, ternyata di tahun ketiga ini masih ada yang merasakan hal yang sama yang belakangan saya rasakan. Pertanyaan yang terus membayangi saya, nanti setelah lulus, mau apa?
Saya ingin sekali meneruskan studi S2, biar antimainstream dari ke-mainstream-an S1 yang sudah menjamur di mana-mana. Trus, mau ambil jurusan apa nanti kalo S2? Awalnya dengan mantap saya bisa berkata, mau ambil jip lagi, dengan alasan ingat kata-katanya guru musik waktu SMA yang bernama pak Arif. Beliau selalu mengingatkan saya untuk "setia" dan fokus pada ilmu yang saya tekuni. Kalau S1 ambil ekonomi, ya sampai S3-pun ambillah ekonomi. Begitu juga saya, kalau S1 jip, sampai S3 juga ambil jip. Namun percakapan dengan Erimay membuat saya sadar, is that what you really want, Khe?
Jawabannya, saya tidak tahu.
Pada akhirnya saya kalah. Saya harus mengakui ketidak-passion-an saya selama 2 tahun ini. Ya, jip jauh dari passion saya. Kecenderungan saya dan dunia saya saat SMA rasanya lebih menggiurkan daripada sekarang. Saya rindu bisa menghabiskan berjam-jam waktu saya untuk mengerjakan soal matematika, kimia, ataupun menghapal mati-matian untuk biologi. Ya saya rindu sekali masa-masa itu, saat saya merasa keren dan amat bangga ketika mengenakan jas lab. Itukah passion saya yang sebenarnya? Atau apakah yang sebenarnya disebut passion itu? Hanyakah sekadar sebuah kegiatan yang dilakukan seseorang tanpa ingat waktu?
Kalau iya, artinya saat ini saya sedang jauh dari passion saya. Ingat juga kata-kata bang Sam, salah satu pembicara dalam PJ FIB beberapa waktu lalu. Ketika ingin melakukan sesuatu, pikirkanlah apakah hal tersebut dapat membantu kita menuju goal kita atau tidak. Sekarang saya kembalikan lagi, apa goal saya yang sebenarnya? Menjadi pustakawan? Arsiparis? Ya itu goal saya, yang akan saya katakan jika ada orang yang bertanya pada saya, "ntar kerjanya apa?", tapi lagi-lagi saya harus mengatakannya, saya belum menemukan passion saya di sana. Selama ini saya belajar, ya. Selama ini berusaha memahami materi yang diberikan dosen, ya. Saya bisa, saya sudah melakukannya, tapi saya belum menikmatinya. Seakan-akan semua hanya demi nilai A dan keinginan untuk menyelesaikan studi S1 saya dengan baik, sehingga saya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik pula kelak, bisa membanggakan orangtua saya, bla bla bla ... Lalu apa?
Sering sekali mendengar kisah orang-orang yang sukses dan berhasil dalam sesuatu yang memang menjadi passionnya, dibantu dengan disiplin ilmu yang mendukungnya. Sedikit terbersit keinginan untuk mengulang waktu dan mengubah pilihan saya saat SNMPTN 2011 lalu. Kenapa dulu nggak ambil jurusan di fmipa, entah kimia atau biologi, jurusan yang passing grade-nya tidak terlalu tinggi, tapi tidak jauh dari dunia saya. Ya, begitu juga dengan Erimay yang terus berpikir, kenapa dulu nggak terus-terusan memperjuangkan FE-nya itu. Ah andai waktu bisa diputar, tapi semuanya terus berjalan kan, mau tak mau semua akan terus berlanjut dan tak ada kesempatan mengulang. Saya tak sedikitpun berniat mencoba SNMPTN lagi, saya sudah sangat bersyukur atas kesempatan kuliah di UI yang Tuhan karuniakan, ditambah dengan Bidikmisi yang saya dapat. Namun sesungguhnya saya tak tahu bagaimana saya harus berkarya nanti, atau bahkan saat ini dengan bidang ilmu yang saya tekuni. Seperti percakapan dengan kak Donny, salah seorang senior saya di jip, yang membuat saya sadar bahwa saat ini saya masih berada di tepian kolam jip, belum menceburkan diri, bahkan belum berkeinginan untuk masuk dan terlibat lebih lanjut. Jelek sekali, bukan?
Ya sudahlah, yang kini berjalan biarlah terus berjalan. Hanya saja, saya ingin belajar dari kesalahan yang sama untuk masa depan saya. Mau apa setelah lulus nanti? Jurusan apa yang akan diambil untuk S2? Bagaimana caranya? Kalau menuruti passion, saya sadar, saya sudah sangat jauh dengan passion saya yang ke-ipa-ipa-an itu. Lalu bagaimana? Hmm, inilah yang belakangan menjadi kegalauan saya. Bagaimana selanjutnya, saya tidak tahu. Saya akan terus melakukan usaha terbaik saya untuk menyelesaikan studi S1 saya ini dengan baik, dan jika Tuhan menghendaki, dalam 3,5 tahun. Sambil memikirkan karya apa yang dapat saya kerjakan saat ini, hingga nanti ketika saya lulus dan bekerja, serta jurusan apa yang akan saya ambil di S2 nanti. Benar kata Eri, rasanya ingin sekali berbincang dengan orang-orang muda yang sukses tentang mimpi mereka, ataupun berbincang dengan dosen-dosen muda jip yang tetap setia dan memilih jip sebagai ladang tempat mereka berkarya. Saya tidak takut pekerjaan apa yang akan saya dapatkan di bidang jip, karena memang saat ini sangat dibutuhkan lulusan-lulusan jip. Hanya saja, akan kah saya menikmatinya sepenuh hati saya?
Perlu diingat, dalam hal ini saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan jurusan saya, hanya menekankan masalah passion dan berusaha menemukannya. Ya, berharap suatu hari nanti saya akan menemukannya, dan berkarya di dalamnya. Amin.
Selasa, 17 September 2013
You are God - Planetshakers
Where there is sickness, there will be healing
Where there is bondage, there will be freedom
Where there is sorrow, there will be laughter
Where there is darkness, Your light will shine bright
For the old has passed away
And this is a brand new day
You are God, You are God
You are so glorious, You are so powerful
You are God, You are God
You are victorious, You are the One Jesus
Where there is blindness, there will be vision
Where there is lacking, thereʼll be provision
Where there is hurting, there will be healing
Where there is downfall, there will be victory
We call upon Your Name Lord
The Name above all names
We call upon the Name that saves
You are God, You are God
You are so glorious, You are so powerful
You are God, You are God
You are victorious, You are the One Jesus
Where there is bondage, there will be freedom
Where there is sorrow, there will be laughter
Where there is darkness, Your light will shine bright
For the old has passed away
And this is a brand new day
You are God, You are God
You are so glorious, You are so powerful
You are God, You are God
You are victorious, You are the One Jesus
Where there is blindness, there will be vision
Where there is lacking, thereʼll be provision
Where there is hurting, there will be healing
Where there is downfall, there will be victory
We call upon Your Name Lord
The Name above all names
We call upon the Name that saves
You are God, You are God
You are so glorious, You are so powerful
You are God, You are God
You are victorious, You are the One Jesus
Can be downloaded at http://www.4shared.com/get/eDjsSQK8/06_-_you_are_god_-_planetshake.html
Senin, 09 September 2013
Diracuni
Aku ingin diracuni oleh rasa cinta, rasa cinta yang menyala pada disiplin ilmu yang kupelajari 2 tahun ini.
Aku ingin ditarik lebih dalam, memahami lebih dari sekadar simbol A yang amat membanggakan diri.
Aku ingin tersesat untuk menemukan apa yang seharusnya aku cari dan hidupi.
Setelah obrolan panjang diiringi bunyi rintik hujan.
Malam ini, aku ingin diracuni.
Kamis, 08 Agustus 2013
Kekhilafan dalam Kebodohan
Khilaf.
Satu kata yang sejujurnya aku tak paham benar apa artinya, hanya sering mendengar kata itu diucapkan oleh orang lain. Kukira saat ini aku khilaf. Sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan besar. Lagi-lagi, aku melakukan sesuatu tanpa berpikir dahulu, egois, hanya memandang gengsi. Lupa akan beratnya perjuanganmu. Lupa akan seberapa banyaknya air matamu. Lupa akan usaha keras yang kau lakukan untukku. Aku lupa, dan menjadi bodoh. Bodoh sekali.
Ah, merajuk lagi. Andaikan, andai saja, andai aku memiliki mesin pemutar waktu seperti yang ada dalam kisah Doraemon. Sungguh ingin kuputar waktu, menempeleng diriku sendiri sebelum melakukan hal bodoh itu agar aku tidak lupa, dan tidak berlaku bodoh. Entah apa yang akan kukatakan padamu nanti, entah bagaimana reaksimu nanti. Namun sungguh aku minta maaf, aku minta maaf atas lakuku yang bodoh dan tak tau diri. Tak sepatutnya aku melakukannya. Menyusahkanmu di awal, bahkan kini sampai akhir aku terus menyusahkanmu. Suatu hari nanti ketika aku berhasil, sungguh kau akan jadi orang pertama yang kupeluk dan kusebut dalam ucapan terima kasih. Itu janjiku, itu ikrarku!
Satu kata yang sejujurnya aku tak paham benar apa artinya, hanya sering mendengar kata itu diucapkan oleh orang lain. Kukira saat ini aku khilaf. Sadar bahwa aku telah melakukan kesalahan besar. Lagi-lagi, aku melakukan sesuatu tanpa berpikir dahulu, egois, hanya memandang gengsi. Lupa akan beratnya perjuanganmu. Lupa akan seberapa banyaknya air matamu. Lupa akan usaha keras yang kau lakukan untukku. Aku lupa, dan menjadi bodoh. Bodoh sekali.
Ah, merajuk lagi. Andaikan, andai saja, andai aku memiliki mesin pemutar waktu seperti yang ada dalam kisah Doraemon. Sungguh ingin kuputar waktu, menempeleng diriku sendiri sebelum melakukan hal bodoh itu agar aku tidak lupa, dan tidak berlaku bodoh. Entah apa yang akan kukatakan padamu nanti, entah bagaimana reaksimu nanti. Namun sungguh aku minta maaf, aku minta maaf atas lakuku yang bodoh dan tak tau diri. Tak sepatutnya aku melakukannya. Menyusahkanmu di awal, bahkan kini sampai akhir aku terus menyusahkanmu. Suatu hari nanti ketika aku berhasil, sungguh kau akan jadi orang pertama yang kupeluk dan kusebut dalam ucapan terima kasih. Itu janjiku, itu ikrarku!
Speechless
"I've became this one person biggest fan since back then in 48 Senior High School for she always knew exactly how to follow the nowadays style but still remember her identity as the children from heaven, a kid whose heart belong to Jesus Christ Himself. You might call me 'aji mumpung' or something I don't care but I'm just seriously proud of this one sister of mine, someone that never failed to remind me how important it is to be close and have a heart that belong to Jesus Christ. I might not perfect, but I love you dearly my dear sister, Khezia Stevi Liana God stay with us forever, Kak. :D"
-Lidya Kartika, August 8th 2013
Can't say anywords, I'm truly speechless.
-Lidya Kartika, August 8th 2013
Can't say anywords, I'm truly speechless.
Rabu, 17 Juli 2013
Mom,
I hate when I have to force you.
I hate when I have to make you confused about me.
I hate when I have to troublesome you.
I hate when I see your tears down for me.
I hate when you have to think hardly to prepare me.
I hate when I see your tears down for me.
I hate when you have to think hardly to prepare me.
You know, my wish is to make you smile and proud.
Not to make you dizzy because of me.
That's why I hate them above Mom, really.
Not to make you dizzy because of me.
That's why I hate them above Mom, really.
Kamis, 20 Juni 2013
Ketika
Ketika semuanya terasa sesak
Ketika tak ada lagi waktu
Ketika rasanya tak mungkin
Ketika semua orang tak mendukung
Ketika keadaan tak sesuai perkiraan
Ketika timeline berantakan
Ketika tak tahu siapa yang dapat disalahkan
Ketika tak berani untuk meminta
Ketika tak bisa meminta bantuan
Ketika terlalu banyak kesalahan
Ketika langkah terhenti
Aku hanya bisa diam
Berharap tangan kasih-Nya menemukan aku lagi
Ketika tak ada lagi waktu
Ketika rasanya tak mungkin
Ketika semua orang tak mendukung
Ketika keadaan tak sesuai perkiraan
Ketika timeline berantakan
Ketika tak tahu siapa yang dapat disalahkan
Ketika tak berani untuk meminta
Ketika tak bisa meminta bantuan
Ketika terlalu banyak kesalahan
Ketika langkah terhenti
Aku hanya bisa diam
Berharap tangan kasih-Nya menemukan aku lagi
Jumat, 10 Mei 2013
Roots Before Branches - GLEE
So many things to do and say
But I can't seem to find my way
But I wanna know how
I know I'm meant for something else
But first I gotta find myself
But I don't know how
Oh, why do I reach for the stars
When I don't have wings to carry me that far?
I gotta have roots before branches
To know who I am, before I know who I wanna be
And faith to take chances
To live like I see a place in this world for me
Sometimes I don't wanna feel and forget the pain is real
Put my head in the clouds
Oh, start to run and then I fall
Thinking I can't get it all
Without my feet on the ground
But I can't seem to find my way
But I wanna know how
I know I'm meant for something else
But first I gotta find myself
But I don't know how
Oh, why do I reach for the stars
When I don't have wings to carry me that far?
I gotta have roots before branches
To know who I am, before I know who I wanna be
And faith to take chances
To live like I see a place in this world for me
Sometimes I don't wanna feel and forget the pain is real
Put my head in the clouds
Oh, start to run and then I fall
Thinking I can't get it all
Without my feet on the ground
There's always a seed before there's a rose
The more that it rains, the more I will grow
The more that it rains, the more I will grow
I gotta have roots before branches
To know who I am, before I know who I wanna be
And faith to take chances
To live like I see a place in this world for me
Whatever comes I know how to take it
Learn to be strong I won't have to fake it
Oh, you're understanding
Learn to be strong I won't have to fake it
Oh, you're understanding
The wind can come and do its best
Blow me north, and south, east and west
But I'll still be standing
I'll be standing
If I have roots before branches
To know who I am, before I know who I'm gonna be
And faith to take chances
To live like I see a place in this world for me
Blow me north, and south, east and west
But I'll still be standing
I'll be standing
If I have roots before branches
To know who I am, before I know who I'm gonna be
And faith to take chances
To live like I see a place in this world for me
9 Summers 10 Autumns dan bola bekel.
Hola everyone :D
Akhirnya bisa ngeblog lagi di tengah waktu senggang, haha
Tadi sore gw ditemani Lina dan Karen nonton 9 Summers 10 Autumns di Pondok. Huwaaaaa akhirnya bisa nonton itu film juga, soalnya mau nonton nggak sempet-sempet terus *sok sibuk* *skip* *lupakan* haha. Makanya tadi seneng banget bisa nonton. Filmnya bagus, ditambah sama view-nya New York yang bikin mupeng ._. keren abis deh pokoknya, mau banget ke sana. Amin. Amin. Nanti pasti ke sana kok, Khe ...
Sembilan hari lalu, gw sempet ngerasa down banget. Yak makanya itu postingan di bawah isinya begitu. Semester 4 ini terasa jauh lebih berat dari yang dikira. Sebelumnya para senior juga bilangnya di semester 4 ini emang berat, dan ternyata memang iya. Kuis hampir di setiap pertemuan, tugas mengalir tiada henti, mending kalo tugasnya bisa sekali dikerjain langsung selesai. Tugas semacam observasi lapangan, makalah, laporan, dll kan nggak bisa sekali duduk manis selesai, apalagi pake sistem kebut semalam. Mesti nyari referensi dulu, pergi ke beberapa perpustakaan, bolak-balik geledah situs jurnal ilmiah, yang pastinya dengan sukses mengubah waktu tidur gw. Sekarang rasanya jam 12 itu masih sore banget, kalo belom jam 2 rasanya belom "malam". Jam tidur berantakan, 24 jam sehari itu sepertinya kurang. I need more than 24, huft.
Bulan April terasa sangat melelahkan. Nggak jarang juga nangis gara-gara tugas. Haha, cengeng banget ya gw? Tapi ya begitulah, baru terasa bahwa hidup itu keras. Capeeekkk banget rasanya jalanin rutinitas harian dan berhadapan sama tugas, sampai gw ngerasa takut banget buat mulai ngerjain tugas. Pikiran udah bikin ciut duluan, semua tugas jadi beban yang tiap detik dipikirin terus, rasanya semua tugas nggak bakal selesai, kayak batu gede banget di depan jalan gw yang nggak bisa gw pindahin. Mau lewat samping juga nggak bisa karena jalannya sempit, mau manjat batunya juga nggak bisa. Nyerah jadinya. Akhir April gw ambil keputusan buat bangun lagi. Nggak boleh cengeng lagi, harus kuat hadepin semua tugas. Mau semangat lagi memasuki bulan Mei, bangun tidur di tanggal 1 Mei dengan sukacita dan harapan yang baru, siap-siap nerima surprise dari Tuhan. Dan ternyata surprise itu benar-benar ada ...
Nilai UTS jelek.
Ya, nilai UTS salah satu matkul gw jelek parah. Klise? Emang. Kaget? Banget. Kalo gw dapet jelek karena gw nggak ngerti materinya, it's fine. Tapi ini gw ngerasa paham kok, nggak ada masalah sama matkul itu. Then, why? Nggak ngerti. Abis nerima kertas ujian itu gw cuma diem, shock, ujungnya nangis. Nangis pertama kalinya di bulan Mei, bulan yang niat awalnya mau semangat lagi, mau berhenti cengeng, mau berjuang lagi, ternyata dibuka dengan tangisan. Lagi. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Sempet ngerasa Tuhan mungkin salah nempatin gw di UI. Mungkin gw nggak mampu untuk nerusin kuliah, mungkin gw emang sebodoh ini sampe nilai gw jelek banget dibandingin dua orang temen deket gw yang selalu ke mana-mana bareng gw. Shock banget rasanya, cuma bisa nangis dan nangis lagi.
Butuh waktu satu sampai dua hari hingga gw bener-bener tenang, bisa ketawa lagi. Lebay? Iya. Gw juga nggak nyangka gw selebay itu. Saat itu gw bener-bener angkat tangan nyerah deh, nggak bisa lagi ngelanjutin "perjuangan" ini. Diingetin sama ayat emas gw tahun ini untuk terus berseru sama Tuhan, berseru saat dalam kesesakan, supaya Ia sendiri yang meluputkan gw. Pelan-pelan gw mulai tenang, mulai bisa mikir lagi, nerima kenyataan pelan-pelan dan yakinin kalo Tuhan nggak pernah salah. Inget juga buat jadi bola bekel. Tau kan bola bekel? Ya, gw mau jadi kayak gitu. Bukan buletnya ya maksud gw -_- Maksudnya, semakin keras bola bekel dihempaskan ke bawah, semakin tinggi ia melambung. Gw mau bisa kayak gitu. Makin keras masalah dalam hidup ini, gw juga harus makin naik, bukan turun. Bukan down, tapi up. Harus dan pasti bisa jadi bola bekel.
Sampai sekarang saat gw ngetik postingan ini, gw mau coba nikmatin padatnya kuliah semester 4 ini. Nyicil tugas dikit-dikit, nyoba untuk nggak jadiin itu sebagai beban. Lumayan juga film 9S10A, cukup memotivasi. Kalo Iwan Setyawan aja bisa, kenapa gw nggak? Bener banget kalo kita nggak bisa memilih masa kecil, tapi masa depan itu kita yang menentukan. Pelan-pelan jalan, coba naik lagi. Suatu hari nanti gw pasti bisa kok kayak Iwan juga. Gw pasti bisa lulus 3,5 tahun, ambil S2 di luar negeri, memperbaiki keadaan ekonomi keluarga, menyekolahkan Karen sampai kuliah, dan banyak lagi impian gw yang lain yang pasti bisa gw capai. Dengan doa, kerja keras, dan campur tangan Tuhan pastinya.
Semangat ya Khe, terus jadi bola bekel.
Akhirnya bisa ngeblog lagi di tengah waktu senggang, haha
Tadi sore gw ditemani Lina dan Karen nonton 9 Summers 10 Autumns di Pondok. Huwaaaaa akhirnya bisa nonton itu film juga, soalnya mau nonton nggak sempet-sempet terus *sok sibuk* *skip* *lupakan* haha. Makanya tadi seneng banget bisa nonton. Filmnya bagus, ditambah sama view-nya New York yang bikin mupeng ._. keren abis deh pokoknya, mau banget ke sana. Amin. Amin. Nanti pasti ke sana kok, Khe ...
Sembilan hari lalu, gw sempet ngerasa down banget. Yak makanya itu postingan di bawah isinya begitu. Semester 4 ini terasa jauh lebih berat dari yang dikira. Sebelumnya para senior juga bilangnya di semester 4 ini emang berat, dan ternyata memang iya. Kuis hampir di setiap pertemuan, tugas mengalir tiada henti, mending kalo tugasnya bisa sekali dikerjain langsung selesai. Tugas semacam observasi lapangan, makalah, laporan, dll kan nggak bisa sekali duduk manis selesai, apalagi pake sistem kebut semalam. Mesti nyari referensi dulu, pergi ke beberapa perpustakaan, bolak-balik geledah situs jurnal ilmiah, yang pastinya dengan sukses mengubah waktu tidur gw. Sekarang rasanya jam 12 itu masih sore banget, kalo belom jam 2 rasanya belom "malam". Jam tidur berantakan, 24 jam sehari itu sepertinya kurang. I need more than 24, huft.
Bulan April terasa sangat melelahkan. Nggak jarang juga nangis gara-gara tugas. Haha, cengeng banget ya gw? Tapi ya begitulah, baru terasa bahwa hidup itu keras. Capeeekkk banget rasanya jalanin rutinitas harian dan berhadapan sama tugas, sampai gw ngerasa takut banget buat mulai ngerjain tugas. Pikiran udah bikin ciut duluan, semua tugas jadi beban yang tiap detik dipikirin terus, rasanya semua tugas nggak bakal selesai, kayak batu gede banget di depan jalan gw yang nggak bisa gw pindahin. Mau lewat samping juga nggak bisa karena jalannya sempit, mau manjat batunya juga nggak bisa. Nyerah jadinya. Akhir April gw ambil keputusan buat bangun lagi. Nggak boleh cengeng lagi, harus kuat hadepin semua tugas. Mau semangat lagi memasuki bulan Mei, bangun tidur di tanggal 1 Mei dengan sukacita dan harapan yang baru, siap-siap nerima surprise dari Tuhan. Dan ternyata surprise itu benar-benar ada ...
Nilai UTS jelek.
Ya, nilai UTS salah satu matkul gw jelek parah. Klise? Emang. Kaget? Banget. Kalo gw dapet jelek karena gw nggak ngerti materinya, it's fine. Tapi ini gw ngerasa paham kok, nggak ada masalah sama matkul itu. Then, why? Nggak ngerti. Abis nerima kertas ujian itu gw cuma diem, shock, ujungnya nangis. Nangis pertama kalinya di bulan Mei, bulan yang niat awalnya mau semangat lagi, mau berhenti cengeng, mau berjuang lagi, ternyata dibuka dengan tangisan. Lagi. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Sempet ngerasa Tuhan mungkin salah nempatin gw di UI. Mungkin gw nggak mampu untuk nerusin kuliah, mungkin gw emang sebodoh ini sampe nilai gw jelek banget dibandingin dua orang temen deket gw yang selalu ke mana-mana bareng gw. Shock banget rasanya, cuma bisa nangis dan nangis lagi.
Butuh waktu satu sampai dua hari hingga gw bener-bener tenang, bisa ketawa lagi. Lebay? Iya. Gw juga nggak nyangka gw selebay itu. Saat itu gw bener-bener angkat tangan nyerah deh, nggak bisa lagi ngelanjutin "perjuangan" ini. Diingetin sama ayat emas gw tahun ini untuk terus berseru sama Tuhan, berseru saat dalam kesesakan, supaya Ia sendiri yang meluputkan gw. Pelan-pelan gw mulai tenang, mulai bisa mikir lagi, nerima kenyataan pelan-pelan dan yakinin kalo Tuhan nggak pernah salah. Inget juga buat jadi bola bekel. Tau kan bola bekel? Ya, gw mau jadi kayak gitu. Bukan buletnya ya maksud gw -_- Maksudnya, semakin keras bola bekel dihempaskan ke bawah, semakin tinggi ia melambung. Gw mau bisa kayak gitu. Makin keras masalah dalam hidup ini, gw juga harus makin naik, bukan turun. Bukan down, tapi up. Harus dan pasti bisa jadi bola bekel.
Sampai sekarang saat gw ngetik postingan ini, gw mau coba nikmatin padatnya kuliah semester 4 ini. Nyicil tugas dikit-dikit, nyoba untuk nggak jadiin itu sebagai beban. Lumayan juga film 9S10A, cukup memotivasi. Kalo Iwan Setyawan aja bisa, kenapa gw nggak? Bener banget kalo kita nggak bisa memilih masa kecil, tapi masa depan itu kita yang menentukan. Pelan-pelan jalan, coba naik lagi. Suatu hari nanti gw pasti bisa kok kayak Iwan juga. Gw pasti bisa lulus 3,5 tahun, ambil S2 di luar negeri, memperbaiki keadaan ekonomi keluarga, menyekolahkan Karen sampai kuliah, dan banyak lagi impian gw yang lain yang pasti bisa gw capai. Dengan doa, kerja keras, dan campur tangan Tuhan pastinya.
Semangat ya Khe, terus jadi bola bekel.
Rabu, 01 Mei 2013
1 Mei
1 Mei ini
Hari pertama di bulan baru
Hari di mana beberapa orang membuat perencanaan,
tekad, dan harapan baru
Begitu pun aku
Terbangun di 1 Mei ini dengan syukur dan haru
Serta merta membuat komitmen dan mimpi baru
Bangkitkan semangat juang yang sempat padam bulan lalu
Namun ketika aku mulai berdiri
Seketika aku jatuh lagi
Hasil perjuanganku selama ini
Ternyata jauh dari perkiraanku sendiri
Tahukah bagaimana rasanya?
Seperti saat kau mendaki gunung yang tinggi
Berpeluh-lelah demi mencapai puncak
Tetapi ketika kau sampai di sana,
Belum sempat bernapas lega dan menikmati pesona
Sebuah tali dari bawah tiba-tiba menarikmu
Kau pun jatuh tanpa perlawanan
Kembali ke dasar
Ya, begitulah rasanya
1 Mei
Kebangkitan dan kejatuhan
Hilang sudah semua atmosfer yang kubangun dalam angan
Berbarengan dengan awan hitam yang datang pertanda akan hujan
Entah apa aku dapat berdiri lagi
Kembali naik mendaki gunung yang tinggi
Ah, jangankan berdiri
Berjejak saja tak kuat kaki ini
Kini di 1 Mei
Hanya bisa bungkam dan melipat tangan
Sepatah doa telah diucapkan
Menjadi bekal untuk 30 hari ke depan
Di 1 Mei
Dinamika kehidupan terjadi
Aku di sini berdiam diri
Hari pertama di bulan baru
Hari di mana beberapa orang membuat perencanaan,
tekad, dan harapan baru
Begitu pun aku
Terbangun di 1 Mei ini dengan syukur dan haru
Serta merta membuat komitmen dan mimpi baru
Bangkitkan semangat juang yang sempat padam bulan lalu
Namun ketika aku mulai berdiri
Seketika aku jatuh lagi
Hasil perjuanganku selama ini
Ternyata jauh dari perkiraanku sendiri
Tahukah bagaimana rasanya?
Seperti saat kau mendaki gunung yang tinggi
Berpeluh-lelah demi mencapai puncak
Tetapi ketika kau sampai di sana,
Belum sempat bernapas lega dan menikmati pesona
Sebuah tali dari bawah tiba-tiba menarikmu
Kau pun jatuh tanpa perlawanan
Kembali ke dasar
Ya, begitulah rasanya
1 Mei
Kebangkitan dan kejatuhan
Hilang sudah semua atmosfer yang kubangun dalam angan
Berbarengan dengan awan hitam yang datang pertanda akan hujan
Entah apa aku dapat berdiri lagi
Kembali naik mendaki gunung yang tinggi
Ah, jangankan berdiri
Berjejak saja tak kuat kaki ini
Kini di 1 Mei
Hanya bisa bungkam dan melipat tangan
Sepatah doa telah diucapkan
Menjadi bekal untuk 30 hari ke depan
Di 1 Mei
Dinamika kehidupan terjadi
Aku di sini berdiam diri
Rabu, 17 April 2013
Rabu, 27 Februari 2013
You say,
You say that you love rain, but you open your umbrella when it rains.
You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines.
You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows.
This is why I am afraid, you say that you love me too.
--Bob Marley
You say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines.
You say that you love the wind, but you close your windows when wind blows.
This is why I am afraid, you say that you love me too.
--Bob Marley
Rabu, 09 Januari 2013
Day 1: “Perjalanan Panjang Dimulai”
Cerita ini dimulai dari kesempatan
pertama kami berkumpul, Selasa malam di Masjid UI. Itulah pertama kalinya
semangatku begitu berapi-api, meski sebelumnya aku sempat kelelahan karena
berbagai persiapan yang kulakukan, sehingga tubuhku menunjukkan tanda-tanda
bahwa tensi darahku sedang turun. Ditambah sedikit stress karena aku merasa
barang bawaanku terlalu berlebihan, satu tas carrier yang sangat padat dan berat, satu tas ransel ukuran besar,
serta satu kantong plastik hitam berukuran sangat besar yang berisi
perlengkapan mengajarku. Namun ketika aku melihat teman-temanku datang dengan
begitu bersemangat, aku pun ketularan. Mereka pun rata-rata membawa tiga tas,
membuatku yakin ternyata aku tidak berlebihan J Pukul 1 dini hari kami berangkat, tak lupa mengucap doa
meminta perlindungan-Nya. Waktu di dalam bis kami gunakan untuk tidur, seakan
tahu bahwa akan ada hal besar yang harus dikerjakan nantinya.
Kira-kira pukul 7 pagi, rombongan sampai
di kantor kecamatan Sobang. Sembari menunggu persiapan grand opening pukul 1 siang nanti, beberapa dari kami ada yang
masih beristirahat dan sarapan di dalam bis karena gerimis turun. Hingga
pembukaan dilaksanakan pukul 13.30, dihadiri oleh bapak Camat, Kepala UPT,
perwakilan dari Dinas Pendidikan, dan beberapa kepala sekolah serta perwakilan
guru. Senang rasanya diterima begitu baik oleh mereka, juga mengenal kecamatan
Sobang ini lebih jauh melalui cerita-cerita mereka. Mendengar kata sambutan
dari bapak Camat, aku merasa bahwa kami sebagai pengajar mempunyai
tanggungjawab yang besar. Beliau begitu berharap kami dapat memberikan sesuatu
bagi kemajuan pendidikan kecamatan Sobang, memberikan harapan dan semangat baru
bagi anak-anak di sini untuk terus melanjutkan pendidikan. Mengalahkan
keterbatasan ekonomi untuk mengejar setiap cita, dan semua tanggungjawab itu
ada di pundak kami, para pengajar GUIM 2, ada di pundakku.
Setelah pembukaan dan makan siang, aku
dan teman-teman titik 5 segera berangkat dengan menggunakan truk yang sangat
besar. Hujan masih terus turun hingga kami harus menggunakan terpal di atas
truk. Tak terpikirkan sebelumnya, kami akan menempuh perjalanan yang begitu
mengasyikkan dan mendebarkan. Jalan akses ke titik 5 Kampung Salam merupakan
tanah berbatu dan belum tersentuh aspal. Aku dan teman-teman di dalam truk
hanya bisa berdoa supaya Tuhan melindungi kami sampai ke tempat tujuan,
diselingi canda setiap kali ada guncangan hebat di dalam truk. Wahana
Halilintar dan Kora-kora seakan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan
keseruan kami saat itu.
Puji
syukur, akhirnya setelah melalui perjalanan panjang yang mendebarkan, pukul
18.00 kami sampai di rumah panitia, tempat teteh Muliati (begitu kami
memanggilnya) tinggal bersama seorang anak dan adiknya. Semestinya para
pengajar segera menuju ke rumah singgah masing-masing, tapi karena hujan yang
terus turun dan langit yang sudah gelap, panitia memutuskan menunda keberangkatan
kami hingga esok hari. Kami mendapat kabar dari teman-teman titik 1 sampai 4
yang masih di kecamatan Sobang, mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan ke
titik mereka masing-masing dikarenakan banjir di jalan akses menuju titik
mereka. Mereka terpaksa menginap di kantor kecamatan Sobang bersama warga yang juga
mengungsi di sana karena rumahnya terendam banjir. Hujan yang terus turun
membuat kantor kecamatan Sobang pun kebagian banjir. Aku tidak dapat
membayangkan keadaan di sana, teman-teman yang berjuang memindahkan
barang-barang yang sangat banyak ke atas meja yang terbatas jumlahnya. Air
terus naik hingga selutut, hingga teman-teman panitia dan pengajar yang
perempuan harus mengungsi ke tempat lain sementara yang laki-laki menjaga
barang di kantor kecamatan. Memprihatinkan. Namun aku sangat salut dengan
semangat mereka yang tidak pernah padam. Bagaimanapun keadaannya, mereka tidak
mengeluh. Jauh lebih baik keadaan kami di sini yang dapat tidur dengan nyenyak
walau dengan listrik yang padam. Malam ini aku hanya bisa berdoa, semoga Tuhan selalu
melingkupi hati mereka dengan rasa syukur dan selalu menyertai mereka di mana
pun berada. Amin.
Langganan:
Postingan (Atom)
