Hide me now
Under Your wings
Cover me
Within Your mighty hand
When the oceans rise and thunders roar
I will soar with You above the storm
Father you are King over the flood
I will be still, know You are God
Find rest my soul
In Christ alone
Know His power
In quietness and trust
When the oceans rise and thunders roar
I will soar with You above the storm
Father You are king over the flood
I will be still, know You are God
Kamis, 27 Desember 2012
Rabu, 26 Desember 2012
... menjelang akhir, sekaligus awal.
Di tengah-tengah kepenatan membuat RPP untuk GUIM Januari nanti, rasanya ingin menuliskan sesuatu di blog ini. Suatu hal semacam kaleidoskop, yang menghantui saya belakangan ini.
Tahun 2012.
Banyak sekali yang terjadi di tahun ini, baik yang selaras maupun kontras. Keberhasilan yang datang bersama dengan kegagalan, atau tawa yang datang bersama kebahagiaan, menambah warna-warni tahun ini. Saya ingat benar, saat mengawali tahun ini rasanya begitu berapi-api. Mengingat saat itu saya juga mendapatkan ayat emas yang menguatkan saya. Ah ayat emas, selalu punya cerita sendiri setiap tahunnya, bukan? :)
Wajar jika semangat yang berapi-api itu naik-turun layaknya grafik kehidupan. Ada kalanya semangat itu berada di titik terendah dan hampir padam, ada pula saatnya semangat itu begitu tinggi untuk memulai sesuatu yang baru, atau mungkin memperbaharui sesuatu. Ada pula saat-saat di mana semangat itu terasa mengambang, suam-suam, seperti peribahasa yang menyebutkan "mati segan, hidup tak mau". Semuanya saya alami, di tahun 2012 ini.
Kini di pengujungnya, memang tak semua detail kejadian saya ingat. Namun beberapa hal tentunya masih terekam dalam memori otak yang serba terbatas ini. Hal-hal yang menggelitik, mengungkap sesuatu, membuat tawa ini lepas, air mata ini menetes, dan lain sebagainya. Ada akhir di 2012, ada pula awal yang meneruskannya. Karena memang setiap akhir merupakan awal dari sesuatu yang lain. Di 2012 ini saya banyak belajar. Belajar bagaimana caranya jujur pada diri sendiri, membebaskan emosi. Belajar bagaimana caranya berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu, letih karena usaha itu, jatuh dan bangun kembali, membendung amarah dan air mata, sekaligus belajar bersyukur dan menikmati hidup.
Bersyukur dan menikmati hidup, itu seperti sebuah kata kunci dalam hidup saya. Saya mulai mengenal istilah itu sejak 2006, ketika Tuhan punya rencana lain dalam hidup saya dan keluarga saya. Dua kata itu selalu mampu membuat saya tersenyum dan membangkitkan kembali gairah untuk bangkit dan terus berjuang hingga kini. Satu keyakinan, hidup saya ada dalam metaplan besar-Nya dan semua itu baik bagi saya. Hidup ini memang keras, tidak mudah, dan pastinya perlu perjuangan. Namun perlu disadari, ada hal-hal yang berada di luar kemampuan kita untuk mengatasinya. Bahkan satu rintik hujan pun turun bukan karena kehendak kita. Semua karena Tuhan yang mengaturnya, menentukan kapan waktu yang baik untuk membiarkannya turun membasahi tanah yang kering, tanpa kita bisa campur tangan atasnya.
Dia tau yang terbaik. Yang terbaik.
Saya pribadi yang mengetahui hal ini terkadang masih merasakan takut atau kuatir dalam menghadapi hidup. Manusiawi memang. Cukup melegakan pula saat mengingat kembali bahwa rancangan-Nya itu yang terbaik bagi kita. Banyak hal yang tidak saya pahami setahun ini, banyak rencana yang gagal terlaksana, kesalahan yang saya buat, mimpi yang terbuang, sekaligus doa yang bahkan terhenti. Di tahun ini pula saya juga merasa bagaimana hidup ini benar-benar hampa saat di luar arena-Nya, saat saya mencoba menjalani metaplan saya sendiri, saat saya menikmati waktu saya sendiri tanpa berbagi dengan-Nya. Sepi, sangat sepi. Oleh karena itu saya berjuang untuk terus kembali, karena saya tau Dia tak pernah pergi, hanya saya yang menjauh dengan bodohnya. Kembali untuk merasakan kasih dan hadirat-Nya lagi, mendapatkan setiap makna hidup ini. Begitu menenangkan rasanya, saat kita tau bahwa ada tangan-Nya yang siap sedia bagi kita.
Menjelang akhir, saya kembali mengucapkan syukur sekaligus berserah menyambut yang akan datang. Kuliah harus terus dalam perjuangan, serta menjadi prioritas bekal masa depan. Keluarga harus terus dalam jangkauan dan kasih yang terutama. Pelayanan harus lebih baik dan matang dari sebelumnya. Hubungan pribadi dengan-Nya yang tak boleh sekali pun ditinggalkan. Waktu yang 24 jam sehari ini harus bisa lebih dimanfaatkan. Potensi diri harus terus digali dan diasah. Untuk cinta, masih akan terus terbagi untuk semua orang. Belum tau kapan akan kembali memberikan satu cinta terkhusus untuk seseorang. Ah, saya belum berani mengatakan "siap" untuk memulainya lagi. Biar Dia yang mengatur hal besar itu dalam metaplan-Nya ya. Jika sudah tiba waktunya, Dia yang akan mempersiapkan saya.
Di 2013, saya ingin terus belajar. Menjadi semakin dewasa, mengingat usia saya yang akan berganti kepala di tahun ini. Haha. Tak terasa memang. Hidup terus berjalan. Saya di dalamnya, ikut mengalir bersama-Nya.
Yang berat melepas 2012 dan rindu berpetualang di 2013,
Khezia
Tahun 2012.
Banyak sekali yang terjadi di tahun ini, baik yang selaras maupun kontras. Keberhasilan yang datang bersama dengan kegagalan, atau tawa yang datang bersama kebahagiaan, menambah warna-warni tahun ini. Saya ingat benar, saat mengawali tahun ini rasanya begitu berapi-api. Mengingat saat itu saya juga mendapatkan ayat emas yang menguatkan saya. Ah ayat emas, selalu punya cerita sendiri setiap tahunnya, bukan? :)
Wajar jika semangat yang berapi-api itu naik-turun layaknya grafik kehidupan. Ada kalanya semangat itu berada di titik terendah dan hampir padam, ada pula saatnya semangat itu begitu tinggi untuk memulai sesuatu yang baru, atau mungkin memperbaharui sesuatu. Ada pula saat-saat di mana semangat itu terasa mengambang, suam-suam, seperti peribahasa yang menyebutkan "mati segan, hidup tak mau". Semuanya saya alami, di tahun 2012 ini.
Kini di pengujungnya, memang tak semua detail kejadian saya ingat. Namun beberapa hal tentunya masih terekam dalam memori otak yang serba terbatas ini. Hal-hal yang menggelitik, mengungkap sesuatu, membuat tawa ini lepas, air mata ini menetes, dan lain sebagainya. Ada akhir di 2012, ada pula awal yang meneruskannya. Karena memang setiap akhir merupakan awal dari sesuatu yang lain. Di 2012 ini saya banyak belajar. Belajar bagaimana caranya jujur pada diri sendiri, membebaskan emosi. Belajar bagaimana caranya berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu, letih karena usaha itu, jatuh dan bangun kembali, membendung amarah dan air mata, sekaligus belajar bersyukur dan menikmati hidup.
Bersyukur dan menikmati hidup, itu seperti sebuah kata kunci dalam hidup saya. Saya mulai mengenal istilah itu sejak 2006, ketika Tuhan punya rencana lain dalam hidup saya dan keluarga saya. Dua kata itu selalu mampu membuat saya tersenyum dan membangkitkan kembali gairah untuk bangkit dan terus berjuang hingga kini. Satu keyakinan, hidup saya ada dalam metaplan besar-Nya dan semua itu baik bagi saya. Hidup ini memang keras, tidak mudah, dan pastinya perlu perjuangan. Namun perlu disadari, ada hal-hal yang berada di luar kemampuan kita untuk mengatasinya. Bahkan satu rintik hujan pun turun bukan karena kehendak kita. Semua karena Tuhan yang mengaturnya, menentukan kapan waktu yang baik untuk membiarkannya turun membasahi tanah yang kering, tanpa kita bisa campur tangan atasnya.
Dia tau yang terbaik. Yang terbaik.
Saya pribadi yang mengetahui hal ini terkadang masih merasakan takut atau kuatir dalam menghadapi hidup. Manusiawi memang. Cukup melegakan pula saat mengingat kembali bahwa rancangan-Nya itu yang terbaik bagi kita. Banyak hal yang tidak saya pahami setahun ini, banyak rencana yang gagal terlaksana, kesalahan yang saya buat, mimpi yang terbuang, sekaligus doa yang bahkan terhenti. Di tahun ini pula saya juga merasa bagaimana hidup ini benar-benar hampa saat di luar arena-Nya, saat saya mencoba menjalani metaplan saya sendiri, saat saya menikmati waktu saya sendiri tanpa berbagi dengan-Nya. Sepi, sangat sepi. Oleh karena itu saya berjuang untuk terus kembali, karena saya tau Dia tak pernah pergi, hanya saya yang menjauh dengan bodohnya. Kembali untuk merasakan kasih dan hadirat-Nya lagi, mendapatkan setiap makna hidup ini. Begitu menenangkan rasanya, saat kita tau bahwa ada tangan-Nya yang siap sedia bagi kita.
Menjelang akhir, saya kembali mengucapkan syukur sekaligus berserah menyambut yang akan datang. Kuliah harus terus dalam perjuangan, serta menjadi prioritas bekal masa depan. Keluarga harus terus dalam jangkauan dan kasih yang terutama. Pelayanan harus lebih baik dan matang dari sebelumnya. Hubungan pribadi dengan-Nya yang tak boleh sekali pun ditinggalkan. Waktu yang 24 jam sehari ini harus bisa lebih dimanfaatkan. Potensi diri harus terus digali dan diasah. Untuk cinta, masih akan terus terbagi untuk semua orang. Belum tau kapan akan kembali memberikan satu cinta terkhusus untuk seseorang. Ah, saya belum berani mengatakan "siap" untuk memulainya lagi. Biar Dia yang mengatur hal besar itu dalam metaplan-Nya ya. Jika sudah tiba waktunya, Dia yang akan mempersiapkan saya.
Di 2013, saya ingin terus belajar. Menjadi semakin dewasa, mengingat usia saya yang akan berganti kepala di tahun ini. Haha. Tak terasa memang. Hidup terus berjalan. Saya di dalamnya, ikut mengalir bersama-Nya.
Yang berat melepas 2012 dan rindu berpetualang di 2013,
Khezia
Selasa, 25 Desember 2012
Happy Birthday, Jesus :)
Happy birthday, Jesus
I'm so glad it's Christmas
All the tinsel and lights
And the presents are nice
But the real gift is You
Happy birthday, Jesus
I'm so glad it's Christmas
All the carols and bells
Make the holiday swell
And it's all about You
Happy birthday, Jesus
Jesus I love You
Senin, 24 Desember 2012
ini malam Natal kan?
Ini malam Natal kan?
Kenapa gw malah jadi galau begini yak. Bukan, bukan, bukan karena sinetron atau apapun kok. Malam Natal kali ini jadi perenungan pribadi aja buat gw, sadar kalo gw selama ini payah banget. Belum bisa jadi anak Daddy yang baik-baik.
Sadar banget, belakangan gw nggak sedekat dulu sama Daddy. Bikin alasan sendiri deh: sibuk lah, nggak sempet lah. Sate pun payah, tetep sate sih tapi nggak terlalu menikmati kayak dulu. Bukan, bukan, postingan yang satu ini bukan pengakuan dosa juga kok. Cuma mau cerita-cerita aja. Gw jadi inget salah satu videonya Dong-Haeng, lupa judulnya apa. Pokoknya itu video isinya tentang Tuhan yang ngeliatin anak-berambut-tiga itu yang sibuuuukkk banget sama pekerjaannya. Dia minta Tuhan nunggu sampai dia nggak sibuk, baru deh dia berdoa ama baca Alkitab. Sementara itu, Tuhan Yesus cuma duduk diem dan bener-bener nunggu. JLEB banget rasanya, sedih udah nyuekin Daddy kayak gitu. Makanya malam Natal ini rasanya sedih banget, apalagi ditambah sama videonya "Happy Birthday Jesus" yang ada di laptop. Makin nangis guling-guling deh ini T.T
Entah masih pantes atau nggak, pengen perbaharuin komitmen lagi. Nggak tau deh udah yang ke berapa bikin komitmen (dan melanggarnya) kayak gini, kalo kata Lidya nggak ada kata terlambat. Pengen jadi anak baik-baik, bisa kasih yang terbaik buat Daddy, diri gw sendiri. Kayak tema Natal UI: "Ketaatanku, Kado untuk Kelahiran-Mu".
Gw harus bisa. Khezia harus bisa.
Harus bisa bikin Daddy senyum lagi, harus bisa perbaikin HPDT, harus bisa jadi kado yang bagus buat Daddy.
Di malam Natal ini, gw harus bisa.
"Selamat ulang tahun Daddy, love you :*"
Kenapa gw malah jadi galau begini yak. Bukan, bukan, bukan karena sinetron atau apapun kok. Malam Natal kali ini jadi perenungan pribadi aja buat gw, sadar kalo gw selama ini payah banget. Belum bisa jadi anak Daddy yang baik-baik.
Sadar banget, belakangan gw nggak sedekat dulu sama Daddy. Bikin alasan sendiri deh: sibuk lah, nggak sempet lah. Sate pun payah, tetep sate sih tapi nggak terlalu menikmati kayak dulu. Bukan, bukan, postingan yang satu ini bukan pengakuan dosa juga kok. Cuma mau cerita-cerita aja. Gw jadi inget salah satu videonya Dong-Haeng, lupa judulnya apa. Pokoknya itu video isinya tentang Tuhan yang ngeliatin anak-berambut-tiga itu yang sibuuuukkk banget sama pekerjaannya. Dia minta Tuhan nunggu sampai dia nggak sibuk, baru deh dia berdoa ama baca Alkitab. Sementara itu, Tuhan Yesus cuma duduk diem dan bener-bener nunggu. JLEB banget rasanya, sedih udah nyuekin Daddy kayak gitu. Makanya malam Natal ini rasanya sedih banget, apalagi ditambah sama videonya "Happy Birthday Jesus" yang ada di laptop. Makin nangis guling-guling deh ini T.T
Entah masih pantes atau nggak, pengen perbaharuin komitmen lagi. Nggak tau deh udah yang ke berapa bikin komitmen (dan melanggarnya) kayak gini, kalo kata Lidya nggak ada kata terlambat. Pengen jadi anak baik-baik, bisa kasih yang terbaik buat Daddy, diri gw sendiri. Kayak tema Natal UI: "Ketaatanku, Kado untuk Kelahiran-Mu".
Gw harus bisa. Khezia harus bisa.
Harus bisa bikin Daddy senyum lagi, harus bisa perbaikin HPDT, harus bisa jadi kado yang bagus buat Daddy.
Di malam Natal ini, gw harus bisa.
"Selamat ulang tahun Daddy, love you :*"
Kamis, 20 Desember 2012
Telat :(
Belakangan banyak banget yang mau gw tulis di blog.
Mulai dari cerita, puisi, atau sekadar tulisan nggak penting.
Tapi kenapa selalu nggak bisa OL pas itu ide muncul?
Giliran udah bisa OL, ada aja yang ngalangin.
Waktunya nggak tepat lah, idenya udah garing lah. Apalah itu.
Jadi telat mulu kan kalo gini jadinya.
Huh.
Mulai dari cerita, puisi, atau sekadar tulisan nggak penting.
Tapi kenapa selalu nggak bisa OL pas itu ide muncul?
Giliran udah bisa OL, ada aja yang ngalangin.
Waktunya nggak tepat lah, idenya udah garing lah. Apalah itu.
Jadi telat mulu kan kalo gini jadinya.
Huh.
Rabu, 05 Desember 2012
Komentar
Halo teman, izinkan saya berkomentar sedikit tentangmu.
Sebelumnya mohon maaf, saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkanmu. Hanya saja, saya benar-benar tidak mengerti tentang apa yang ada di pikiranmu. Dapatkah kau ceritakan pada saya apa yang kau rasakan saat ini, di sini? Menyesal kah? Ingin pulang kah? Atau bagaimana?
Ini, berada di sini, merupakan suatu kesempatan besar kawan. Saya pribadi tak henti-hentinya berterimakasih kepada Yang Kuasa atas kesempatan yang Ia berikan ini pada saya. Untuk dapat ikut bergabung dalam acara yang luar biasa ini, bertemu dengan orang-orang luar biasa pula, mendapatkan banyak hal luar biasa. Sungguh sangat sayang kau lewatkan setiap detiknya. Tapi entah apa yang kau pikirkan, benarkah tugas-tugasmu yang (katanya) menumpuk itu? Yang saya pahami selama saya mengenalmu, kau seolah menyesal mengikuti acara ini. Kau bilang acara ini hanya untuk menghabiskan uang, tidak penting, dan bahkan tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam hidupmu. Tahukah kau, kaulah yang menentukan semua itu. Caramu memandangnya lah yang menentukan seberapa banyak hasil yang akan kau dapat melalui acara ini. Tapi sayang, kau melewatkannya.
Entahlah, saya benar-benar tak habis pikir dengan sikapmu. Saya juga tak mengerti bagaimana harus menyikapimu, karena semua pilihan memang ada di tanganmu. Saya hanya berharap kau dapat membuka mata, melihat betapa hebatnya kesempatan yang diberikan-Nya pada kita ini. Sangat patut kita syukuri dan nikmati, karena begitu banyak manfaat yang dapat kita bawa pulang nantinya. Mungkin sebaiknya kau memang pulang saja, daripada mengeluh terus di sini dengan sejuta alasanmu itu. Maaf, tapi masih banyak orang lain yang lebih pantas menggantikanmu di sini, mendapat kesempatan ini, memperoleh berkat ini, dan menikmati apa yang kau nikmati.
Salam,
Yang baru saja kau kenal 16 jam yang lalu.
Sebelumnya mohon maaf, saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkanmu. Hanya saja, saya benar-benar tidak mengerti tentang apa yang ada di pikiranmu. Dapatkah kau ceritakan pada saya apa yang kau rasakan saat ini, di sini? Menyesal kah? Ingin pulang kah? Atau bagaimana?
Ini, berada di sini, merupakan suatu kesempatan besar kawan. Saya pribadi tak henti-hentinya berterimakasih kepada Yang Kuasa atas kesempatan yang Ia berikan ini pada saya. Untuk dapat ikut bergabung dalam acara yang luar biasa ini, bertemu dengan orang-orang luar biasa pula, mendapatkan banyak hal luar biasa. Sungguh sangat sayang kau lewatkan setiap detiknya. Tapi entah apa yang kau pikirkan, benarkah tugas-tugasmu yang (katanya) menumpuk itu? Yang saya pahami selama saya mengenalmu, kau seolah menyesal mengikuti acara ini. Kau bilang acara ini hanya untuk menghabiskan uang, tidak penting, dan bahkan tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam hidupmu. Tahukah kau, kaulah yang menentukan semua itu. Caramu memandangnya lah yang menentukan seberapa banyak hasil yang akan kau dapat melalui acara ini. Tapi sayang, kau melewatkannya.
Entahlah, saya benar-benar tak habis pikir dengan sikapmu. Saya juga tak mengerti bagaimana harus menyikapimu, karena semua pilihan memang ada di tanganmu. Saya hanya berharap kau dapat membuka mata, melihat betapa hebatnya kesempatan yang diberikan-Nya pada kita ini. Sangat patut kita syukuri dan nikmati, karena begitu banyak manfaat yang dapat kita bawa pulang nantinya. Mungkin sebaiknya kau memang pulang saja, daripada mengeluh terus di sini dengan sejuta alasanmu itu. Maaf, tapi masih banyak orang lain yang lebih pantas menggantikanmu di sini, mendapat kesempatan ini, memperoleh berkat ini, dan menikmati apa yang kau nikmati.
Salam,
Yang baru saja kau kenal 16 jam yang lalu.
Sabtu, 01 Desember 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
