Cerita ini dimulai dari kesempatan
pertama kami berkumpul, Selasa malam di Masjid UI. Itulah pertama kalinya
semangatku begitu berapi-api, meski sebelumnya aku sempat kelelahan karena
berbagai persiapan yang kulakukan, sehingga tubuhku menunjukkan tanda-tanda
bahwa tensi darahku sedang turun. Ditambah sedikit stress karena aku merasa
barang bawaanku terlalu berlebihan, satu tas carrier yang sangat padat dan berat, satu tas ransel ukuran besar,
serta satu kantong plastik hitam berukuran sangat besar yang berisi
perlengkapan mengajarku. Namun ketika aku melihat teman-temanku datang dengan
begitu bersemangat, aku pun ketularan. Mereka pun rata-rata membawa tiga tas,
membuatku yakin ternyata aku tidak berlebihan J Pukul 1 dini hari kami berangkat, tak lupa mengucap doa
meminta perlindungan-Nya. Waktu di dalam bis kami gunakan untuk tidur, seakan
tahu bahwa akan ada hal besar yang harus dikerjakan nantinya.
Kira-kira pukul 7 pagi, rombongan sampai
di kantor kecamatan Sobang. Sembari menunggu persiapan grand opening pukul 1 siang nanti, beberapa dari kami ada yang
masih beristirahat dan sarapan di dalam bis karena gerimis turun. Hingga
pembukaan dilaksanakan pukul 13.30, dihadiri oleh bapak Camat, Kepala UPT,
perwakilan dari Dinas Pendidikan, dan beberapa kepala sekolah serta perwakilan
guru. Senang rasanya diterima begitu baik oleh mereka, juga mengenal kecamatan
Sobang ini lebih jauh melalui cerita-cerita mereka. Mendengar kata sambutan
dari bapak Camat, aku merasa bahwa kami sebagai pengajar mempunyai
tanggungjawab yang besar. Beliau begitu berharap kami dapat memberikan sesuatu
bagi kemajuan pendidikan kecamatan Sobang, memberikan harapan dan semangat baru
bagi anak-anak di sini untuk terus melanjutkan pendidikan. Mengalahkan
keterbatasan ekonomi untuk mengejar setiap cita, dan semua tanggungjawab itu
ada di pundak kami, para pengajar GUIM 2, ada di pundakku.
Setelah pembukaan dan makan siang, aku
dan teman-teman titik 5 segera berangkat dengan menggunakan truk yang sangat
besar. Hujan masih terus turun hingga kami harus menggunakan terpal di atas
truk. Tak terpikirkan sebelumnya, kami akan menempuh perjalanan yang begitu
mengasyikkan dan mendebarkan. Jalan akses ke titik 5 Kampung Salam merupakan
tanah berbatu dan belum tersentuh aspal. Aku dan teman-teman di dalam truk
hanya bisa berdoa supaya Tuhan melindungi kami sampai ke tempat tujuan,
diselingi canda setiap kali ada guncangan hebat di dalam truk. Wahana
Halilintar dan Kora-kora seakan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan
keseruan kami saat itu.
Puji
syukur, akhirnya setelah melalui perjalanan panjang yang mendebarkan, pukul
18.00 kami sampai di rumah panitia, tempat teteh Muliati (begitu kami
memanggilnya) tinggal bersama seorang anak dan adiknya. Semestinya para
pengajar segera menuju ke rumah singgah masing-masing, tapi karena hujan yang
terus turun dan langit yang sudah gelap, panitia memutuskan menunda keberangkatan
kami hingga esok hari. Kami mendapat kabar dari teman-teman titik 1 sampai 4
yang masih di kecamatan Sobang, mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan ke
titik mereka masing-masing dikarenakan banjir di jalan akses menuju titik
mereka. Mereka terpaksa menginap di kantor kecamatan Sobang bersama warga yang juga
mengungsi di sana karena rumahnya terendam banjir. Hujan yang terus turun
membuat kantor kecamatan Sobang pun kebagian banjir. Aku tidak dapat
membayangkan keadaan di sana, teman-teman yang berjuang memindahkan
barang-barang yang sangat banyak ke atas meja yang terbatas jumlahnya. Air
terus naik hingga selutut, hingga teman-teman panitia dan pengajar yang
perempuan harus mengungsi ke tempat lain sementara yang laki-laki menjaga
barang di kantor kecamatan. Memprihatinkan. Namun aku sangat salut dengan
semangat mereka yang tidak pernah padam. Bagaimanapun keadaannya, mereka tidak
mengeluh. Jauh lebih baik keadaan kami di sini yang dapat tidur dengan nyenyak
walau dengan listrik yang padam. Malam ini aku hanya bisa berdoa, semoga Tuhan selalu
melingkupi hati mereka dengan rasa syukur dan selalu menyertai mereka di mana
pun berada. Amin.