Hari ini kembali menulis.
Sebuah kebiasaan lama yang karena rasanya waktu berjalan begitu cepat dan padat, sempat terhilang dan akhirnya blog ini pun terlupakan. Menyenangkan rasanya bisa kembali menulis, menceritakan berbagai hal ajaib yang terjadi mewarnai hari, sebagai sebuah bentuk dokumentasi untuk diri.
Hari ini 31 Desember 2020, pengujung tahun yang terasa begitu berbeda.
Yang biasanya dihabiskan dengan ibadah tutup tahun bersama keluarga, dilanjutkan dengan larut di kelap-kelip lampu pohon Natal sambil menunggu jarum jam bergerak ke angka 12. Kemudian tepat di pergantian tahun, duduk berdoa bersama mama & Karen, bersyukur untuk tahun yang luar biasa yang Tuhan sudah beri.
Tapi kali ini berbeda.
Siapa sangka hari ini aku berada di sebuah kamar kosan ukuran 4 m x 3 m, menikmati ibadah tutup tahun online via YouTube, dengan mama & Karen berada di tempat berbeda. Isolasi mandiri katanya, lantaran hasil PCR Test-ku yang menunjukkan keterangan positif. Satu-satunya hal positif yang tidak diharapkan ya sepertinya, hahaha. Mengubah semuanya, memberikan nuansa dan pengalaman yang berbeda menghadapi Natal & tahun baru kali ini.
Ya, pandemi ini memang mengubah semuanya.
Akhir Maret 2020, aku dan banyak orang merasakan yang namanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sehingga kami harus WFH (Work From Home). Pengalaman yang wow sekali, karena rasanya 24 jam harus selalu standby di depan laptop. Namun satu hal yang aku syukuri, PSBB ini justru memberikanku waktu lebih banyak untuk bersama mama & Karen di rumah. Yang biasanya hanya bertemu mereka seminggu sekali, jadi bisa makan bareng setiap hari, beraktivitas bersama mereka mulai pagi hingga malam hari. Menyenangkan rasanya, penuh dengan rasa syukur.
25 Maret 2020 juga merupakan sebuah awal untukku.
Puji Tuhan, aku bertemu dengan pribadi yang selama ini aku bawa dalam doaku. Mas Adit namanya, laki-laki kelahiran Jakarta dengan orangtua asal Jawa. Persis seperti keluargaku. Akhirnya bertemu mas-mas, hahahaha. Seorang yang takut akan Tuhan, nggak pernah itung-itungan soal pelayanan, yang pusat hidupnya adalah Tuhan. Waktu dikenalin ke mama juga somehow mama klik aja, hahaha. Ajaib lah pokoknya, dan aku pun bisa melihat dia sayang dan peduli pada mama & Karen. Ditambah lagi, seorang yang sepadan denganku. Satu frekuensi baik dari segi tujuan hidup, pemikiran, bahkan sampai kerecehan selera bercanda.
Man of my prayer.
Bahkan dikasih banyak banget bonusnya sama Tuhan. Jago masak, sabarnya luar biasa, jago main alat musik, karakternya keren, smart, mau belajar, ganteng lagi duh, hahaha. Bener-bener nggak nyangka bisa Tuhan pertemukan dengan cara yang ajaib, unik, dan nggak pernah terpikir lah pokoknya. Modal jualan kaos cari dana Natal, eh bisa dapet jodoh. Hahaha, memang keren banget Tuhan itu kalo kita setia, ada aja cara-Nya.
Tapi ya namanya lagi pandemi, jadilah kita LDR dulu 5 polsek. Hahaha
Ketemunya palingan sebulan sekali, tapi tiap malem selalu quality time dengan video call. Saling sharing seharian itu ada cerita apa aja, dari mulai cerita yang penting sampai nggak penting. Ketawa-ketawa ngakak, nyanyi sama gitaran bareng. Akhirnya ditutup dengan doa bareng sebelum tidur. Ah, partner doaku. Kurang apa lagi coba, rasanya udah speechless banget bersyukur sama Tuhan.
Lanjut, di tahun ini merayakan juga tanggal 27 Juni yang ke-27.
Wow, kalo dipikir-pikir waktu bener-bener nggak terasa. Karena masih pandemi, bersyukur banget ulang tahun kemarin bisa ngerayain di rumah. Biasanya kan tiap ulang tahun tuh pasti pas Life Camp deh, hahaha. Kemaren jadinya bisa di rumah, dari pagi masnya juga ke rumah. Tante Eli sekeluarga ke rumah, ah seru lah pokoknya rame. Terus abis ikutan ibadah pemuda di gerejanya mas, ditutup dengan surprise dari MRLC via Zoom. Bikin nangis bombay kan jadinya, terharu akutu. Hahahaha. Bersyukur, bersyukur, bersyukur banget lah pokoknya yaampun.
Tahun ini bukan hanya mendapat, tapi ternyata harus ada yang dilepaskan juga.
2 orang yang tadinya jadi 2 orang terdekat, Tuhan singkapkan bahwa ternyata yang terjadi lebih dari itu. Pada akhirnya aku ditantang untuk bisa firm mengambil keputusanku sendiri, tanpa terlalu khawatir sama apa kata mereka atau reaksi mereka. Belajar banget bahwa di hidup ini, kita nggak akan pernah bisa sok-sokan bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain. Kebahagiaan kita ya tanggung jawab kita sendiri, sekuat-kuatnya kita nggak akan pernah bisa kita meng-cover orang lain dan ngikutin apa maunya orang lain hanya supaya dipandang sebagai pribadi yang baik, yang nggak mau menyakiti.
Bersyukurnya, semua terjadi secara ajaib.
Dalam setiap langkah, rasanya semua bener-bener udah diatur sama Tuhan kejadiannya gimana. Dia menyertai. Di tengah-tengah rasa galau, sedih, marah, campur aduk, Dia mengingatkan identitasku sesungguhnya. Aku anak-Nya, berharga, mulia, dan jadi kesayangan-Nya. Apa kata orang tidak menentukan nilaiku, tapi apa kata Tuhan itulah yang harusnya jadi pegangan identitasku. Bersyukur banget Tuhan ajarin ini semua, dan walaupun semuanya nggak sama seperti dulu lagi sekarang, rasanya jauh lebih lega. What belongs to me will stay, right?
Sempet capek banget juga sama kerjaan.
Rasanya jenuh dan nggak ada tenaga lagi buat mulai. Tapi puji Tuhan, Dia memberi kekuatan dan memampukan untuk berjalan lagi. Nggak mudah memang situasinya. Apalagi selama WFH rasanya deg-degan apakah bisa dapet full apa nggak. Puji Tuhan, Tuhan cukupkan semuanya. Nggak sekalipun dapet nggak full, semua Tuhan pelihara. Di tengah keadaan begini, pressure jadi makin besar dan nggak bisa dihindari. Bener-bener kalo bukan karena kekuatan dari Tuhan, nggak sanggup lah diri ini. Hahahaha
Dari semuanya, Tuhan bener-bener baik.
Nggak pernah sekalipun Dia tinggalin. Selalu ada, selalu beserta. Pas banget sama tema Natal tahun ini, yang harus tiba-tiba di-cancel jadi ibadah online lantaran ada yang positif juga di gereja. Tapi tetep, penyertaannya nyata banget. Sampai di pengujung tahun ini, kalo flashback rasanya nggak bisa berhenti bersyukur. Semua Tuhan rancangkan begitu sempurna, untuk mendatangkan kebaikan. Percaya banget kalo semuanya udah Dia atur, termasuk hasil application Chevening yang aku masukin tahun ini. Biar terjadi sesuai kehendak-Nya. Kalo Dia kehendaki berangkat, ya berangkat. Kalo nggak ya nggak, biar semua sesuai yang Dia mau aja. Toh Dia Pemilik hidupku, segala sesuatu pasti dibuat begitu indah dan luar biasa, tepat pada waktunya kan.
Sekarang, mari waktunya kembang apian. Hahahaha
Tadi sore udah beli kembang api, pengen banget rasanya nyalain kembang api kali ini. Nyamper ke tentangga (a.k.a. mas kesayangan) yang dari tadi udah sibuk bakar-bakar. Hahahaha. Ah Tuhan, terima kasih. Setiap hari Engkau baik. 2020 begitu luar biasa Tuhan buat, 2021 pasti lebih luar biasa lagi. Biar Khezia semakin nyenengin Tuhan ya, dan makin deket sama panggilan dan tujuan Tuhan ciptain Khezia. Amin amin.
Khezia diberkati, dikasihi, disertai.
IMANUEL.