Sabtu, 15 Mei 2021

00.58 - 01.23

Malam ini pk 00.58.

Kata orang, ini sudah waktunya untuk tidur. Lantas, mengapa aku masih terjaga?

Seperti biasa, rasanya masih ada tanggung jawabku yang mengganjal, yang kalau belum kuselesaikan maka akan sulit untuk aku tidur dengan tenang. Ya, apa lagi kalau bukan WA yang belum dibalas.

Entah apakah memang semudah itu kebahagiaanku terganggu, mengingat ini adalah hari ke-4 (memasuki hari ke-5 re: hari terakhir) aku libur. Bersyukur selama 4 hari ini bisa melakukan banyak hal, mulai dari re-arrange perabotan rumah, ajak mama ke Ikea, maupun sekadar leyeh-leyeh menghabiskan waktu bersama keluarga.

Kadang aku jadi kesal sendiri, karena membaca cuplikan message WA yang muncul, hatiku jadi tidak tenang serasa dikejar-kejar. Padahal mungkin tidak ada yang mengejar, mungkin ... setidaknya sebelum aku menerima telp tiba-tiba, berarti segala sesuatu belum se-urgent itu. Tapi kenapa jadi uring-uringan begini? Apakah ini pertanda hatiku memang sudah tidak di sini?

Minggu lalu baru saja aku merasa sedikit lega, karena setidaknya aku sudah mencoba bicara dan mengungkapkan apa yang membuat sesak di dada. Puji Tuhan, mereka menanggapi dengan baik adanya semua keluh kesahku yang kalau ditulis sebanyak 14 halaman notes HP dan 1,5 jam bicara. Pilihannya pun sedang aku doakan, supaya setiap langkah yang kuambil seturut dengan apa maunya Tuhan.

Ini benar-benar bukan masa yang mudah. Bahkan aku ingat pernah berdoa kepada Tuhan, kalau boleh, aku ingin sekali men-skip bagian hidupku yang ini. Supaya cepat selesai, supaya aku tak perlu berlama-lama merasa seperti ini. Tapi itu mauku, sedangkan maunya Tuhan itu seharusnya jadi lebih penting daripada itu.

Di atas segala sesuatu, aku percaya Tuhan mengijinkanku lewat di masa ini karena ada maksudnya. Aku memang belum tau apa, tapi seperti pengalaman yang sudah-sudah, hal yang awalnya aku belum tau apa maksudnya di akhir justru membuatku bersyukur luar biasa. Ah, kalau soal surprise mah Tuhan memang jagonya.

Aku hanya bisa meminta, biar Roh Kudus yang senantiasa menjamah dan mengalirkan damai di hati. Bahkan sampai naik ke pikiran juga, supaya bisa bertindak dengan penuh hikmat dan ketenangan. Yaampun Tuhan, aku benar-benar butuh Engkau. Bisa gila sih ini kalau menghadapi ini semua sendiri.

Sampai saat ini sejujurnya belum nemu sampai ke akar kenapa bisa merasa segelisah ini. Apakah karena ini adalah sesuatu yang sudah berkali-kali terjadi, sampai akhirnya sudah terlalu 'luka' dan jadi sensitif sekali. Dan kalau sudah begini, rasanya benar-benar tak bisa sendiri. Kalau bukan karena kasih dan penyertaan Tuhan, kekuatan Tuhan, mungkin sudah menyerah sebelum hari ini.

Ya, pada akhirnya semuanya akan kembali lagi kepada kebaikan kasih-Nya.

Hidup ini semua karena kebaikan Tuhan, aku masih bernapas pun karena Tuhan. Hari-hari ini aku hanya minta satu dari Tuhan, biar Tuhan beri aku kekuatan untuk hidup dari sehari ke sehari. Biar Tuhan berikan kekuatan-Nya cukup untuk sepanjang 1 hari ini, biar Tuhan berikan sukacita-Nya cukup untuk menghadapi apapun yang terjadi hari ini. Dan biar segala sesuatu terjadi tetap seturut kehendak-Nya, yang terbaik, terutama, dan teristimewa.

Belum melihat, bukan berarti tidak ada. Suatu hari Tuhan pasti buat aku mengerti. Setidaknya, untuk belajar tetap bersyukur dan menghargai kasih Tuhan sehari demi sehari.

Amin.