Kamis, 19 Juni 2014

Unconditionally - Katy Perry

Oh no, did I get too close?
Oh, did I almost see what's really on the inside?
All your insecurities
All the dirty laundry
Never made me blink one time

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now
Let go and just be free
I will love you unconditionally

Come just as you are to me
Don't need apologies
Know that you are worthy
I'll take your bad days with your good
Walk through the storm I would
I do it all because I love you, I love you

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now
Let go and just be free
I will love you unconditionally

So open up your heart and just let it begin
Open up your heart and just let it begin
Open up your heart and just let it begin
Open up your heart

Acceptance is the key to be
To be truly free
Will you do the same for me?

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
And there is no fear now
Let go and just be free
'Cause I will love you unconditionally


I will love you unconditionally

1000% bukan 100%

Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Perlu kesiapan dan kematangan mental maupun tekad. Namun bagaimana jika kamu ditunjuk menjadi seorang pemimpin, ketika kamu merasa belum pantas?

Itulah yang aku rasakan selama beberapa hari ini. Ketika dipilih oleh miss Merry dan pak Alva untuk menjadi seorang House Chief Musketeers dalam Life Camp minggu depan. Bukan hanya sekadar coach yang memimpin 10 anak, tetapi seorang House Chief akan memimpin 30 anak sekaligus dalam satu house. Apa nanti aku dapat membuat anak-anak tersebut menikmati camp? Apa nanti aku dapat memotivasi mereka hingga mereka mengalami breakthrough? Mudah? Kurasa tidak.

Ya, itu yang aku takutkan. Aku merasa bukan apa-apa, tidak sebanding dengan ketiga orang House Chief lainnya. Dua orang House Chief merupakan anggota MRCA Batch 1, sedangkan satu lagi adalah staf MRI. Lalu aku? Aku masih harus banyak belajar dan belum dapat dikatakan hebat dalam memimpin. Masih banyak sekali kekurangan yang aku miliki, tetapi mengapa miss Merry dan pak Alva memilihku? Mereka pasti memiliki alasannya kan? Entah apapun yang menjadi alasan mereka, di sisi lain aku merasa sangat bangga dan bersyukur diberikan kepercayaan untuk memangku tanggung jawab yang lebih besar. Aku sempat berpikir, mungkin melalui hal ini mereka ingin aku belajar lebih banyak untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Ya, ini memang kesempatan emas menurutku. Kesempatan untuk belajar dan praktik secara langsung.

Meskipun begitu, salah satu yang jadi kelemahanku muncul lagi. Minder. Kuakui dalam beberapa hal aku seringkali merasa minder, apalagi jika aku diperhadapkan dengan orang-orang yang kemampuannya ada di atasku. Hingga malam ini aku bercerita kepadamu dan mama mengenai hal ini. Kalian berdua sungguh menenangkan hati dengan cara tersendiri.

Kamu mengajarkanku untuk membuang rasa minder itu jauh-jauh. Mengingatkanku akan hal yang terpenting yaitu terus melakukan bagianku yang terbaik. Satu lagi, kamu bilang aku harus membuat target 1000%, bukan 100%. Karena 100% itu adalah kemampuan kita manusia, sedangkan 1000% adalah mimpi kita. Yang aku pelajari darimu, untuk berhasil aku harus berani bermimpi dan membuat target jauh melebihi kemampuanku. Melengkapi hal itu, aku harus percaya pada diriku sendiri kalau aku pasti bisa. Pasti bisa menjadi seorang pemimpin yang baik dan meraih targetku sebagai seorang Coach sekaligus seorang House Chief.

Sedangkan mama mengajarkanku sisi yang lain. Mama berkata bahwa dalam setiap doanya, beliau selalu meminta pada Yang Kuasa untuk membuatku menjadi seorang kepala dan membawaku terus naik. Mungkin kesempatan inilah jawaban doa mama itu, ketika aku dipercayakan hal yang lebih besar. Dan mama mengingatkanku, jika memang Tuhan yang memberiku kesempatan ini, masakan Ia tak memperlengkapiku dan membiarkanku begitu saja? Tidak mungkin. Ia pasti akan membimbingku dan memperlengkapi aku dengan hikmat, kekuatan, sukacita, dan semangat yang baru asalkan aku terus mengandalkan Dia dalam segala hal. Bersama Yesus, aku pasti bisa.

Dua hal tersebut sungguh menenangkan hati. Membuatku yakin bahwa dalam setiap langkah yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidupku adalah rencana Tuhan, dan bahwa aku pasti dapat mencapai targetku jika aku terus melakukan yang terbaik. Ya, itulah yang kudapat. Sebisa mungkin akan kubuang rasa minder tersebut dan percaya pada diriku sendiri bawa aku pasti bisa, karena ada Yesus yang bersamaku.


"Pemimpin yang baik tidak berada di atas dan memberikan perintah. Pemimpin yang baik berada di sisi kita & memberikan contoh." --Merry Riana

Yes, aku akan melakukannya. Aku akan menjadi teladan dan menjadi pemimpin sekaligus rekan yang baik bagi House Musketeers nanti. SEMANGAT Khezia! Kalau Merry Riana saja bisa, maka Khezia juga PASTI BISA! Yeah!




nb:
Terima kasih kamu dan mama, both of you are my precious. Thanks God I have you both :')

Kamis, 05 Juni 2014

Belajar dari Kebodohan

Hei kawan, selamat pagi.

Cerita ini ditulis di perpustakaan pusat kampusku, tempatku biasa menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas, belajar, atau bahkan sekadar online. Pagi ini aku merasa gagal (lagi). Yah di minggu-minggu terakhir kuliah sebelum libur ini, aku gagal menghadiri satu kelas karena alasan yang sangat sepele. Bahkan aku malu untuk mengatakannya, KETIDURAN.

Kelas dimulai pukul 9 pagi. Aku sudah bangun sejak pukul 6 tadi pagi, segera bergegas memasak nasi, menyiapkan sarapan, dan lain-lain. Kebodohan itu dimulai setelah sarapan, apalagi setelah badan ini menempel dengan kasur. Kantuk datang menyerang, aku pun tertidur. Bangun pukul 8.30, segera mandi dan kulihat jam sudah menunjukkan pukul 8.50. Aku bersiap-siap secepat kilat dan jam menunjukkan pukul 8.55. Habislah aku. Pasti akan terlambat sampai di kelas. Sesungguhnya kelas dimulai pukul 8 pagi, tetapi dosenku mengundurnya menjadi jam 9 pagi dengan catatan beliau tidak ingin ada yang terlambat. Akhirnya setelah melalui sedikit pertimbangan dan karena tidak ingin menghancurkan mood sang dosen, aku memutuskan untuk tidak masuk kelas.

Di sinilah aku sekarang, di perpustakaan menulis cerita ini. Merasa gagal. Kenapa?

Bisa dibilang aku termasuk orang yang perfeksionis. Sebisa mungkin aku mengusahakan segala sesuatunya berjalan sempurna, termasuk kehadiranku di kelas. Sejak dulu aku jarang sekali tidak masuk sekolah/kuliah jika aku tidak benar-benar berhalangan untuk hadir. Sakit pun seringkali aku tetap memaksakan diri untuk masuk. Dan hari ini aku tidak masuk karena kebodohanku yang begitu payah, yang sebenarnya bisa tidak terjadi. Sederhana memang, tetapi sungguh aku merasa gagal. Perasaan yang sama ketika aku harus tidur larut malam lantaran mengejar deadline esok hari, padahal karena aku menunda-nunda pekerjaan dan akhirnya harus mengebutnya dalam semalam.

Aku benci seperti ini.
Aku benci diriku sendiri.
Masih terlalu payah mengatur waktu. Terlalu manja pada diri sendiri. Tidak disiplin. Mau jadi apa kalau seperti ini terus? Pasti akan membuat kinerjaku payah jika aku tak segera memperbaikinya. Ya, memperbaikinya. Berulang kali aku berjanji pada diri sendiri dan berusaha untuk belajar dari pengalaman, tidak mengulangi perbuatan-perbuatan bodoh seperti ini. Belajar untuk menghargai waktu tiap detiknya, belajar mengerjakan segala sesuatunya sekarang bukan nanti atau besok, belajar tidak berleha-leha dan tidak menunda pekerjaan. Semuanya masih dalam tahap belajar. Aku belajar menjadi keras pada diriku sendiri. Sebab jika bukan aku, siapa lagi?

Yah begitulah sedikit ceritaku pagi ini. Hingga saat ini aku akan terus belajar dari kebodohanku tersebut. Aku tak mau kelak di masa depan aku gagal akan hal besar hanya karena aku tidak bisa mengatasi kebodohanku yang sepele ini. Aku harus semangat, tegas, dan disiplin pada diriku. Tidak boleh manja dan bersantai-santai. Ayo Khezia semangat! Terus belajar dari setiap proses yang ada. Yak, SEMANGAT!