Jumat, 07 November 2014

"sama-beda"

Hei kamu,
Malam ini kita kembali membangun cerita.

Awalnya aku yang bercerita bagaimana pusingnya aku hari ini, memikirkan banyak hal dan terus mencoba untuk kuat di depan dan belakang (katamu). Dilanjutkan denganmu, kau berbagi PR yang selama ini menyita pikiranmu. PR yang meski telah berbagai cara kau coba memecahkannya, tetapi masih saja belum terlihat buahnya.

Terima kasih ya untuk mau membaginya denganku, sebuah kehormatan bagiku.
Lalu kita mulai berpendapat satu sama lain. Mengemukakan asumsi masing-masing. Hingga semakin terlihat jelas, ada perbedaan dalam cara kita memandang suatu fenomena. Ibarat gajah, kau mendeskripsikannya dari wajah dan telinganya yang lebar, sedangkan aku mendeskripsikannya dari panjang ekornya dan berat badannya. Ya, sudut pandang kita berbeda.

Aku teringat pada salah satu perkataan pak Alva, bahwa dalam mencari pasangan hidup adalah keputusan kita masing-masing untuk memilih yang "sama" atau "berbeda" dengan kita. Ketika memilih yang "sama", secara otomatis akan banyak terlihat persamaan yang muncul. Semakin cepat akrab, sejalan dalam pemikiran. Meski sesungguhnya ada bahaya di balik ke"sejalan"an itu. Kita akan selalu mendeskripsikan sesuatu dari sudut pandang yang sama. Kelihatannya indah memang, tak perlu ada perdebatan. Namun sesungguhnya, ada sisi lain dari suatu fenomena yang luput kita perhatikan. Lantaran kau dan aku sama-sama melihat dari satu sisi saja.

Sedangkan ketika memilih yang "berbeda", hadiah utama yang akan diperoleh ya adalah perbedaan itu sendiri. Perbedaan ini dapat mencakup cara berpikir, menganalisis, berbeda sudut pandang hingga sangat memicu terjadinya percekcokan. Wow, tampaknya berbahaya sekali ya. Namun coba lihat lebih dekat lagi, melalui hal ini kita justru smenjadi semakin kaya! Segala perbedaan itu membuat ide-ide kita pun berbeda, cara kita mengatasi masalah berbeda, bahkan cara kita mendeskripsikan seekor gajah pun akan berbeda. Tidakkah kau lihat ini sebagai sebuah tantangan yang sangat mengasyikkan? Kita menjadi lebih waspada, karena melihat lebih dari satu sisi yang ada. Ya, saling melengkapi.

Mana yang kau pilih, sayang?
Sejujurnya, aku memilih yang kedua. Perbedaan itu memperkaya kita, melengkapi kita. Seperti miss Merry dan pak Alva :) haha

Semoga kelak kita semakin mengerti ya.
Hingga pada akhirnya menjadi semakin bijaksana.

Aku mengasihimu.

-neverending story-

Ini adalah dongeng sebelum tidur.

Sebut saja mereka adalah Galih dan Ratna.
Di suatu senja, Tuhan mempertemukan mereka berdua. Dalam harmoni nada, seketika mereka jatuh cinta. Bahkan bukan hanya terjatuh, tapi tergila-gila dimabuk cinta. Hingga suatu hari mereka harus menerima kenyataan, mereka tak bisa bersama.

Dengan penuh keterpaksaan semuanya berubah. Galih pergi meningglkan Ratna yang masih berharap keajaiban terjadi. Namun ternyata tidak. Semua hanya ilusi dan ekspektasi sia-sia. Galih pergi tanpa jejak, membiarkan Ratna semakin menggila dalam harapnya.

Bertahun-tahun hidup dengan jalannya masing-masing, takdir kembali mempertemukan mereka dalam ruang dan waktu. Sontak hal itu membuat Ratna kembali bergairah. Harapannya untuk bersama orang yang sangat ia cintai kembali ia hidupkan setelah ia kubur sedalam-dalamnya. Hasratnya kembali merona, membentuk asumsi baru akan apa yang mereka sebut takdir.

Sedangkan Galih? Entah. Sepertinya ia kembali hanya untuk bertanggungjawab atas keputusannya dahulu meninggalkan Ratna dalam sesak. Bahkan tanpa ada suatu niat untuk kembali merajut cinta. Mungkin itu yang membuat kehadirannya seolah tak pernah cukup bagi Ratna. Ia hadir tapi tak hadir. Ia ada tapi tak ada. Tak bisa digapai, tak bisa diraih.

Lantas, sampai kapan semuanya akan seperti ini?
Akankah Ratna terus-menerus memilih hidup dalam khayalan fana demi merasakan kebahagiaan yang tak pasti?
Ataukah memang pintu hati Galih telah tertutup rapat akan kisah mereka berdua dan tak sedikitpun timbul keinginan untuk membukanya kembali?

Sekali lagi, ini hanyalah sebuah dongeng sebelum tidur.
Dongeng tanpa akhir.
Kau lah yang memilih untuk segera tidur atau terus melanjutkannya dengan caramu sendiri.