Jadi begini ceritanya ...
Tadi sore saya mengobrol dengan salah seorang teman dekat saya, sebut saja Erimay :p haha. Gini gini, kita tadi ngobrolin tentang JIP, jurusan Ilmu Perpustakaan yang udah memasuki tahun ketiga kami jalani. Belakangan saya dan Eri memang sering membicarakan hal ini, sedikit berorientasi ke masa depan sekaligus masa lalu. Lega rasanya saya tidak sendiri, ternyata di tahun ketiga ini masih ada yang merasakan hal yang sama yang belakangan saya rasakan. Pertanyaan yang terus membayangi saya, nanti setelah lulus, mau apa?
Saya ingin sekali meneruskan studi S2, biar antimainstream dari ke-mainstream-an S1 yang sudah menjamur di mana-mana. Trus, mau ambil jurusan apa nanti kalo S2? Awalnya dengan mantap saya bisa berkata, mau ambil jip lagi, dengan alasan ingat kata-katanya guru musik waktu SMA yang bernama pak Arif. Beliau selalu mengingatkan saya untuk "setia" dan fokus pada ilmu yang saya tekuni. Kalau S1 ambil ekonomi, ya sampai S3-pun ambillah ekonomi. Begitu juga saya, kalau S1 jip, sampai S3 juga ambil jip. Namun percakapan dengan Erimay membuat saya sadar, is that what you really want, Khe?
Jawabannya, saya tidak tahu.
Pada akhirnya saya kalah. Saya harus mengakui ketidak-passion-an saya selama 2 tahun ini. Ya, jip jauh dari passion saya. Kecenderungan saya dan dunia saya saat SMA rasanya lebih menggiurkan daripada sekarang. Saya rindu bisa menghabiskan berjam-jam waktu saya untuk mengerjakan soal matematika, kimia, ataupun menghapal mati-matian untuk biologi. Ya saya rindu sekali masa-masa itu, saat saya merasa keren dan amat bangga ketika mengenakan jas lab. Itukah passion saya yang sebenarnya? Atau apakah yang sebenarnya disebut passion itu? Hanyakah sekadar sebuah kegiatan yang dilakukan seseorang tanpa ingat waktu?
Kalau iya, artinya saat ini saya sedang jauh dari passion saya. Ingat juga kata-kata bang Sam, salah satu pembicara dalam PJ FIB beberapa waktu lalu. Ketika ingin melakukan sesuatu, pikirkanlah apakah hal tersebut dapat membantu kita menuju goal kita atau tidak. Sekarang saya kembalikan lagi, apa goal saya yang sebenarnya? Menjadi pustakawan? Arsiparis? Ya itu goal saya, yang akan saya katakan jika ada orang yang bertanya pada saya, "ntar kerjanya apa?", tapi lagi-lagi saya harus mengatakannya, saya belum menemukan passion saya di sana. Selama ini saya belajar, ya. Selama ini berusaha memahami materi yang diberikan dosen, ya. Saya bisa, saya sudah melakukannya, tapi saya belum menikmatinya. Seakan-akan semua hanya demi nilai A dan keinginan untuk menyelesaikan studi S1 saya dengan baik, sehingga saya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik pula kelak, bisa membanggakan orangtua saya, bla bla bla ... Lalu apa?
Sering sekali mendengar kisah orang-orang yang sukses dan berhasil dalam sesuatu yang memang menjadi passionnya, dibantu dengan disiplin ilmu yang mendukungnya. Sedikit terbersit keinginan untuk mengulang waktu dan mengubah pilihan saya saat SNMPTN 2011 lalu. Kenapa dulu nggak ambil jurusan di fmipa, entah kimia atau biologi, jurusan yang passing grade-nya tidak terlalu tinggi, tapi tidak jauh dari dunia saya. Ya, begitu juga dengan Erimay yang terus berpikir, kenapa dulu nggak terus-terusan memperjuangkan FE-nya itu. Ah andai waktu bisa diputar, tapi semuanya terus berjalan kan, mau tak mau semua akan terus berlanjut dan tak ada kesempatan mengulang. Saya tak sedikitpun berniat mencoba SNMPTN lagi, saya sudah sangat bersyukur atas kesempatan kuliah di UI yang Tuhan karuniakan, ditambah dengan Bidikmisi yang saya dapat. Namun sesungguhnya saya tak tahu bagaimana saya harus berkarya nanti, atau bahkan saat ini dengan bidang ilmu yang saya tekuni. Seperti percakapan dengan kak Donny, salah seorang senior saya di jip, yang membuat saya sadar bahwa saat ini saya masih berada di tepian kolam jip, belum menceburkan diri, bahkan belum berkeinginan untuk masuk dan terlibat lebih lanjut. Jelek sekali, bukan?
Ya sudahlah, yang kini berjalan biarlah terus berjalan. Hanya saja, saya ingin belajar dari kesalahan yang sama untuk masa depan saya. Mau apa setelah lulus nanti? Jurusan apa yang akan diambil untuk S2? Bagaimana caranya? Kalau menuruti passion, saya sadar, saya sudah sangat jauh dengan passion saya yang ke-ipa-ipa-an itu. Lalu bagaimana? Hmm, inilah yang belakangan menjadi kegalauan saya. Bagaimana selanjutnya, saya tidak tahu. Saya akan terus melakukan usaha terbaik saya untuk menyelesaikan studi S1 saya ini dengan baik, dan jika Tuhan menghendaki, dalam 3,5 tahun. Sambil memikirkan karya apa yang dapat saya kerjakan saat ini, hingga nanti ketika saya lulus dan bekerja, serta jurusan apa yang akan saya ambil di S2 nanti. Benar kata Eri, rasanya ingin sekali berbincang dengan orang-orang muda yang sukses tentang mimpi mereka, ataupun berbincang dengan dosen-dosen muda jip yang tetap setia dan memilih jip sebagai ladang tempat mereka berkarya. Saya tidak takut pekerjaan apa yang akan saya dapatkan di bidang jip, karena memang saat ini sangat dibutuhkan lulusan-lulusan jip. Hanya saja, akan kah saya menikmatinya sepenuh hati saya?
Perlu diingat, dalam hal ini saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan jurusan saya, hanya menekankan masalah passion dan berusaha menemukannya. Ya, berharap suatu hari nanti saya akan menemukannya, dan berkarya di dalamnya. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ayo ayo, silakan dikomentari :D