Hallo ...
Sudah sejak 8 Desember 2021 yang lalu aku bikin draft di blog ini, tapi ternyata nggak selesai juga. Hahahaha. Iya, emang udah lama banget nggak nulis. Dan somehow nulis itu adalah salah satu cara berkontemplasi dengan diri sendiri ya ternyata.
Seperti sekarang ini, minggu pagiku di kamar sendirian lantaran mas Adit barusan berangkat ada yang perlu dihandle di kantornya. Ecieeee, Khezia sekarang udah jadi istri orang. Wahahaha. Ini juga adalah salah satu perubahan terbesar dalam hidup yang puji Tuhan, Tuhan ijinkan aku alami.
Gimana rasanya jadi istri?
SERU! Wahahaha. Iya bener, seseru itu. Kayaknya aku mulai menikmati deh jadi ibu rumah tangga #halah hahaha. Mulai sering masak, dan surprisingly, masakanku enak kata mas Adit. Dia kan Quality Control-ku, hahaha. Bersih-bersih rumah, kayaknya seneng gitu lho kalo ngeliat rumah bersih, rapi, wangi. Ada kepuasan tersendiri. Hahaha. Paling yang bikin males dikit adalah kalo ngeliat cucian piring numpuk, rasanya mager banget. Hahahaha
Sebersyukur itu rasanya, bisa nikah sama mas Adit. Masih suka nggak percaya, Tuhan bener-bener kasih orang yang tepat untuk jadi partner hidupku. Setiap hari itu rasanya seru, apapun keadaannya adaaaaa aja yang bisa kita ketawain. Walaupun masalah mah ada aja, pusing dikit mah ada aja, tapi rasanya tetap menyenangkan.
Tuhan itu baik, benar-benar baik.
Nggak kebayang kan kalo nikahnya bukan sama mas Adit, misal nikah sama orang yang salah gitu, gimana coba kan? Akan jadi seperti apa hari-hari ini, hahahaha. Dan lebih parahnya lagi itu seumur hidup lho, seumur hidup itu kan lama ya bund. Makanya sampai sekarang rasanya overwhelmed banget atas berkat Tuhan yang satu ini, bersyukur sekali.
Satu hal yang lagi struggle banget sekarang, adalah soal pekerjaan. Sebenernya ini bukan sesuatu yang baru, tapi udah lama banget terjadi mungkin selama 3 semester ini. Sebagai Leader di MRLC, rasanya tantangan kok ya nggak habis-habis gitu lho. Sejak pandemi sampai sekarang, rasanya suliiiittt sekali mau mencapai target. Masih aja ngalamin masalah yang sama soal data, yang bahkan sekarang tambah parah karena udah menyangkut culture.
Rasanya semua itu nggak ada habisnya, kayak gunung tinggi yang didaki tapi nggak nyampe-nyampe ke puncaknya. Udah ngabisin banyak pikiran, tenaga, waktu, doa, air mata, tapi masih jauh banget ujungnya. Dan karena ini udah terjadi di beberapa semester, somehow itu sampai menyentuh identitas diriku.
Aku merasa gagal sebagai Leader. Gagal menyelesaikan masalah teamku, gagal memimpin dengan baik, gagal mencapai target, dan masih banyak lagi kegagalan lainnya yang bikin perasaan nggak enak dan sedih luar biasa. Semakin aku merasa gagal, semakin payah rasanya aku untuk bergerak dan melakukan sesuatu, kayak powerless aja gitu. Semua yang dilakukan kayaknya sia-sia.
Ya, bergumul dengan identitas sangat nggak mudah. Aku belajar untuk inget-inget lagi, kenapa ya aku bisa jadi Leader, kenapa bisa sampai sejauh ini. Belajar untuk inget lagi penyertaan Tuhan sampai hari ini. Kalau Tuhan udah bawa sampai hari ini, ya masa endingnya udahan gitu doang jadi Leader yang gagal. Nggak seru amat ya kan.
Baru aja semalem ngeliat postingannya Esslyn The di IG, yang pake desain note-nya gitu dan diingetin bahwa :
KALAU KITA HANYA MENGERJAKAN YANG KITA BISA/SUKA, KITA JADI NGGAK AKAN PERNAH MELIHAT PENYERTAAN & MUJIZAT YANG TUHAN KERJAKAN.
Diiyain pake banget! :')
Sampai hari ini jujur rasanya masih beraaaatt banget. Ini udah bulan Mei, dan MRLC masih jauh banget dari target. Oh iya, ditambah sama resignation-nya Gersom. Itu juga lumayan nambah pemikiran sebagai Leader yang gagal. Kalo kata Boss, tingkat Love-ku berkurang banget, bahkan merah. Itu PR besarnya.
Iya, aku pun ngerasa jadi orang yang egois. Dari dulu yang kak Vida bilang aku egoless, sekarang kok jadi egois ya. Nggak ngerti apa yang terjadi, tapi mungkin ya kebablasan. Kalo dulu seorang Khezia Love-nya tinggi banget, sehingga harus naikin Respect, sekarang malah jomplang Respect-nya ketinggian. Dan kalo dulu rasanya apa-apa aku mikirin perasaan orang lain, belajar untuk bersikap bodo amat, lah sekarang kebablasan jadi nggak peduli perasaan orang lain kayaknya.
Jadi ngerasa kayak kehilangan identitas diri, sebenernya Khezia ini orang yang kayak gimana sih? Leader yang kayak gimana sih?
Barusan jadi kepikir sesuatu. Nah kan beneran karena nulis jadi kepikir sesuatu, hahaha. Memang nulis itu jadi waktu untuk berkontemplasi yang sangat baik ya.
Selama merasa kehilangan identitas ini, aku ngerasa perlu kembali jadi Khezia yang dulu. Khezia yang deket banget sama anggota team, yang namanya sering disebut dalam ucapan terima kasih kalo ada yang dapet Rank Promotion. Khezia yang dulu care banget sampai tengah malem atau libur pun masih jawabin WA anggota team soal kerjaaan. Kelihatannya memang baik, but seriously do I really want to be that kind of Khezia?
Sepertinya bukan itu deh yang aku mau. Terus, apakah itu berarti kalo nggak mau jadi Khezia yang dulu, artinya Khezia yang sekarang jahat gitu? Hmm, kayaknya nggak juga deh. Khezia yang dulu maupun Khezia yang sekarang, sama-sama punya kekurangan kan. Punya plus minusnya sendiri. But guess what's the different?
Bedanya adalah Khezia yang ada di titik ini adalah Khezia yang udah ngalamin banyak sekali hal, lebih banyak jam terbangnya, pengalamannya, termasuk pengetahuannya. Means that, sekarang senjatanya sebenernya udah lebih banyak seiring berjalannya waktu. Dan waktu juga yang membuat keadaan banyak berubah. Team yang udah berubah jadi unit, orang yang nambah banyak, dan lain sebagainya.
Nggak bermaksud untuk menyalahkan keadaan, no no sama sekali no. Tapi itu artinya, there's always an opportunity to be an upgraded-me. Khezia versi upgrade. Kayak apps BNI yang semalem aku buka nggak bisa, karena maksa buat update. Jadi harus di-update dulu baru bisa dibuka lagi. Mungkin sekarang keadaannya ya kayak gini, kalo Khezia nggak upgrade, Khezia nggak akan bisa jalan lagi. Harus update, harus upgrade. Be the new me, an upgraded version of myself.
Gils gils, dalem banget ini kesimpulan. Wahahahaha
So this is a chance of mine, to determine a new version of myself. Aku yang menentukan sendiri, seorang Khezia mau jadi Leader yang kayak apa. Mau jadi Warrior yang kayak gimana. Mau jadi pribadi yang seperti apa. Aku yang pegang kendali, aku yang menentukan, aku yang mengatur sendiri identitasku.
Woooww, terima kasih untuk pemahaman ini ya Tuhan :')
Kalo aku yang menentukan sendiri, berarti aku bebas dong mau jadi yang kayak gimana. Identitas pertama yang terbaik dan nggak ada tandingannya, kayaknya cuma identitas dari Tuhan deh :') Coba kita liat satu-satu ya, kata Tuhan apa.
- Anak kesayangan-Nya
- Biji mata-Nya
- Diingat-Nya diantara hamparan pasir di laut
- Diindahkan-Nya di tengah milyaran bintang di langit
- Disertai kemanapun pergi
- Dijadikan kuat dan berhasil
- Jadi kepala dan bukan ekor
- Terus naik dan bukan turun
- Jadi terang dunia yang memuliakan Bapa
- Diperlengkapi dalam segala perbuatan baik
- Dikasihi Allah dan sesama
- Perpanjangan tangan-Nya
Tuhan yang menciptakan aku, Tuhan yang paling tau apa dan siapakah aku ini. Tuhan yang paling tau identitasku. Jadi identitas dari Tuhan lah yang paling bagus untuk aku ambil menjadi identitasku. Karena nggak ada yang kenal aku, melebihi Tuhan yang mengenalku, bahkan termasuk diriku sendiri ya kan.
Terima kasih untuk perenungan hari ini ya, Tuhan :')
Terima kasih udah nemenin aku di setiap masa, musim, apapun keadaan dan situasinya. I'll take these points as my new identity, ter-install dalam diri Khezia, di dalam Nama Tuhan Yesus. Ada pengertian yang baru, identitas yang baru, keyakinan yang baru.
I AM WHO YOU SAY I AM.
Amen. Sekali lagi, terima kasih Tuhan. Hati ini rasanya jadi lebih lega, lebih siap menghadapi besok (Senin), yang udah mulai kerja lagi setelah libur panjang lebaran. Wahahaha. Nulis memang se-ampuh itu ya, hahaha. Ampuh karena ditemenin Bapa :) Yeaayy!
I'm a BLESSED, TOUGH, SIGNIFICANT Leader.
-- Khezia Stevi Liana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ayo ayo, silakan dikomentari :D