Di tengah-tengah kepenatan membuat RPP untuk GUIM Januari nanti, rasanya ingin menuliskan sesuatu di blog ini. Suatu hal semacam kaleidoskop, yang menghantui saya belakangan ini.
Tahun 2012.
Banyak sekali yang terjadi di tahun ini, baik yang selaras maupun kontras. Keberhasilan yang datang bersama dengan kegagalan, atau tawa yang datang bersama kebahagiaan, menambah warna-warni tahun ini. Saya ingat benar, saat mengawali tahun ini rasanya begitu berapi-api. Mengingat saat itu saya juga mendapatkan ayat emas yang menguatkan saya. Ah ayat emas, selalu punya cerita sendiri setiap tahunnya, bukan? :)
Wajar jika semangat yang berapi-api itu naik-turun layaknya grafik kehidupan. Ada kalanya semangat itu berada di titik terendah dan hampir padam, ada pula saatnya semangat itu begitu tinggi untuk memulai sesuatu yang baru, atau mungkin memperbaharui sesuatu. Ada pula saat-saat di mana semangat itu terasa mengambang, suam-suam, seperti peribahasa yang menyebutkan "mati segan, hidup tak mau". Semuanya saya alami, di tahun 2012 ini.
Kini di pengujungnya, memang tak semua detail kejadian saya ingat. Namun beberapa hal tentunya masih terekam dalam memori otak yang serba terbatas ini. Hal-hal yang menggelitik, mengungkap sesuatu, membuat tawa ini lepas, air mata ini menetes, dan lain sebagainya. Ada akhir di 2012, ada pula awal yang meneruskannya. Karena memang setiap akhir merupakan awal dari sesuatu yang lain. Di 2012 ini saya banyak belajar. Belajar bagaimana caranya jujur pada diri sendiri, membebaskan emosi. Belajar bagaimana caranya berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu, letih karena usaha itu, jatuh dan bangun kembali, membendung amarah dan air mata, sekaligus belajar bersyukur dan menikmati hidup.
Bersyukur dan menikmati hidup, itu seperti sebuah kata kunci dalam hidup saya. Saya mulai mengenal istilah itu sejak 2006, ketika Tuhan punya rencana lain dalam hidup saya dan keluarga saya. Dua kata itu selalu mampu membuat saya tersenyum dan membangkitkan kembali gairah untuk bangkit dan terus berjuang hingga kini. Satu keyakinan, hidup saya ada dalam metaplan besar-Nya dan semua itu baik bagi saya. Hidup ini memang keras, tidak mudah, dan pastinya perlu perjuangan. Namun perlu disadari, ada hal-hal yang berada di luar kemampuan kita untuk mengatasinya. Bahkan satu rintik hujan pun turun bukan karena kehendak kita. Semua karena Tuhan yang mengaturnya, menentukan kapan waktu yang baik untuk membiarkannya turun membasahi tanah yang kering, tanpa kita bisa campur tangan atasnya.
Dia tau yang terbaik. Yang terbaik.
Saya pribadi yang mengetahui hal ini terkadang masih merasakan takut atau kuatir dalam menghadapi hidup. Manusiawi memang. Cukup melegakan pula saat mengingat kembali bahwa rancangan-Nya itu yang terbaik bagi kita. Banyak hal yang tidak saya pahami setahun ini, banyak rencana yang gagal terlaksana, kesalahan yang saya buat, mimpi yang terbuang, sekaligus doa yang bahkan terhenti. Di tahun ini pula saya juga merasa bagaimana hidup ini benar-benar hampa saat di luar arena-Nya, saat saya mencoba menjalani metaplan saya sendiri, saat saya menikmati waktu saya sendiri tanpa berbagi dengan-Nya. Sepi, sangat sepi. Oleh karena itu saya berjuang untuk terus kembali, karena saya tau Dia tak pernah pergi, hanya saya yang menjauh dengan bodohnya. Kembali untuk merasakan kasih dan hadirat-Nya lagi, mendapatkan setiap makna hidup ini. Begitu menenangkan rasanya, saat kita tau bahwa ada tangan-Nya yang siap sedia bagi kita.
Menjelang akhir, saya kembali mengucapkan syukur sekaligus berserah menyambut yang akan datang. Kuliah harus terus dalam perjuangan, serta menjadi prioritas bekal masa depan. Keluarga harus terus dalam jangkauan dan kasih yang terutama. Pelayanan harus lebih baik dan matang dari sebelumnya. Hubungan pribadi dengan-Nya yang tak boleh sekali pun ditinggalkan. Waktu yang 24 jam sehari ini harus bisa lebih dimanfaatkan. Potensi diri harus terus digali dan diasah. Untuk cinta, masih akan terus terbagi untuk semua orang. Belum tau kapan akan kembali memberikan satu cinta terkhusus untuk seseorang. Ah, saya belum berani mengatakan "siap" untuk memulainya lagi. Biar Dia yang mengatur hal besar itu dalam metaplan-Nya ya. Jika sudah tiba waktunya, Dia yang akan mempersiapkan saya.
Di 2013, saya ingin terus belajar. Menjadi semakin dewasa, mengingat usia saya yang akan berganti kepala di tahun ini. Haha. Tak terasa memang. Hidup terus berjalan. Saya di dalamnya, ikut mengalir bersama-Nya.
Yang berat melepas 2012 dan rindu berpetualang di 2013,
Khezia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ayo ayo, silakan dikomentari :D